SOLO — Tanu Kismanto, Master Taekwondo pemegang DAN 7 internasional asal Solo, mencatatkan prestasi di kancah global. Ia berhasil meraih predikat peserta terbaik dalam International Taekwondo Master Course 2026 yang diselenggarakan World Taekwondo Academy (WTA)–Kukkiwon di Korea Selatan.
Kursus bergengsi tersebut berlangsung pada 12-14 Agustus 2026 dan diikuti oleh sekitar 70 master taekwondo dari 31 negara. Dalam ajang ini, Tanu yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang 4 Pemuda dan Olahraga PMS, mengikuti program pada level International Master Course Grade 2.
“Pesertanya sekitar 70 master dari 31 negara. Dari seluruh peserta tersebut diambil lima besar peserta terbaik dan saya salah satu yang terbaik,” ujar Tanu Kismanto.
Lima Besar dari 70 Master Dunia
Pencapaian ini diraih Tanu melalui proses panjang dan konsistensi dalam membina taekwondo, khususnya di Kota Solo dan Jawa Tengah. Sebelumnya, pada tahun 2025 ia telah menyelesaikan pendidikan International Master Course Grade 3.
Program International Taekwondo Master Course sendiri dirancang untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para master taekwondo. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana pembinaan calon pemimpin taekwondo masa depan agar memiliki kemampuan profesional serta karakter yang baik dalam mengembangkan semangat dan teknik taekwondo secara global.
“Tujuan dari seminar International Taekwondo Master Course ini adalah meningkatkan kompetensi maupun profesionalisme dalam hal pengembangan taekwondo di negara masing-masing, sesuai dengan materi dan silabus dari World Taekwondo Academy,” jelasnya.
Jalur Menuju Gelar Grand Master
Keikutsertaan Tanu pada level Grade 2 bukan tanpa tujuan. Jenjang ini menjadi salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan ke International Master Course Grade 1 yang mengarah pada jenjang Grand Master.
Ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari Kukkiwon rencananya akan diterapkan dalam pembinaan taekwondo di Indonesia, khususnya di Solo dan Jawa Tengah. Menurut Tanu, perkembangan taekwondo harus terus mengikuti perubahan zaman, termasuk pemanfaatan teknologi, perkembangan metode latihan, serta perubahan regulasi olahraga.
“Harapannya taekwondo ke depan semakin maju dengan perkembangan teknologi saat ini maupun pengembangan aturan-aturan olahraga yang berjalan saat ini,” katanya.
Taekwondo Bisa Mewarnai Olahraga MMA
Tak hanya fokus pada kompetisi konvensional, Tanu melihat peluang besar bagi taekwondo untuk berkontribusi dalam perkembangan olahraga Mixed Martial Arts (MMA) yang semakin populer. Karakter teknik taekwondo dinilai dapat menjadi salah satu disiplin yang memperkaya kemampuan seorang atlet MMA.
“Taekwondo saat ini juga dikembangkan untuk bisa mewarnai olahraga yang sedang ngetren, yaitu MMA. Nantinya taekwondo bisa menjadi salah satu disiplin olahraga yang mewarnai mixed martial arts,” ungkapnya.
Prestasi Tanu di Korea Selatan menjadi catatan penting bagi perkembangan taekwondo di Solo. Dengan pengalaman dan konsistensinya dalam membina atlet, ia berharap semakin banyak master dan atlet dari Solo maupun Jawa Tengah yang mampu menembus level internasional.
“Ini tentunya dengan usaha yang keras, eksistensi dan konsistensi selama ini berlatih dan membina taekwondo, khususnya di Kota Solo maupun Jawa Tengah,” pungkasnya.