BOYOLALI — Sebanyak 11 kecamatan di Kabupaten Boyolali masuk dalam daftar wilayah rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Wilayah tersebut meliputi Ampel, Andong, Cepogo, Gladagsari, Juwangi, Kemusu, Musuk, Selo, Tamansari, Wonosegoro, dan Wonosamodro.
Pemkab Boyolali mengantisipasi dampak kemarau panjang dengan menyiapkan sekitar 11 juta liter air bersih. Langkah ini diambil setelah fenomena El Nino diprediksi memperpanjang musim kemarau hingga awal 2027.
Kebutuhan Dropping Air Bersih Capai 7 Juta Liter
Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawaludin, menyebut kebutuhan dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan dihitung mencapai sekitar 7 juta liter hingga November 2026. Angka tersebut menjadi dasar penyiapan total 11 juta liter air bersih untuk 11 kecamatan.
"Kami menghitung hingga November 2026 kebutuhan dropping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan mencapai sekitar 7 juta liter air. Sehingga kebutuhan sementara sampai November 2026 sekitar 11 juta liter air bersih untuk 11 Kecamatan di Boyolali," ungkap Syawaludin, Senin (24/8/2026).
Belajar dari Kemarau Panjang 2023
Pengalaman kemarau panjang tahun 2023 menjadi acuan Pemkab Boyolali dalam menyusun langkah antisipasi. Saat itu, kekeringan melanda 13 kecamatan di kabupaten ini, lebih banyak dibandingkan daftar rawan kekeringan tahun ini.
Distribusi air bersih bersama berbagai sektor menjadi solusi jangka pendek yang dijalankan. Namun, Pemkab Boyolali tidak berhenti pada penyaluran bantuan, melainkan terus mencari titik sumber air baru dan membangun bak penampungan untuk solusi jangka panjang.
Warga Khawatir Sumber Air Semakin Menyusut
Sejumlah kecamatan yang mulai merasakan krisis air bersih mulai cemas apabila musim kemarau terus berlanjut. Warga bernama Sholeh mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi sumber air yang tersisa.
"Sumber-sumber air yang masih tersisa akan semakin menyusut bahkan habis," ungkap Sholeh.
Kondisi tersebut berpotensi memperparah krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Boyolali. Bantuan air bersih menjadi harapan utama warga terdampak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama masa sulit ini.