Pencarian

GTR Ultra 2026 di Kabupaten Semarang Diikuti 900 Pelari dari 7 Negara, Putaran Uang Capai Rp 4,5 Miliar

Minggu, 27 September 2026 • 08:46:32 WIB
GTR Ultra 2026 di Kabupaten Semarang Diikuti 900 Pelari dari 7 Negara, Putaran Uang Capai Rp 4,5 Miliar
Pelari mengikuti Gajah Trail Run Ultra 2026 di kawasan Gunung Gajah, Kabupaten Semarang.

KABUPATEN SEMARANG — Gelaran Gajah Trail Run (GTR) Ultra 2026 mempertemukan sekitar 900 pelari dari tujuh negara di jalur yang membentang dari Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, hingga Gunung Kendil. Jumlah peserta tahun ini naik sekitar 200 orang dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang berada di kisaran 700 pelari.

Race Director GTR Ultra 2026, Sri Agus Budi Santoso, menyebut kategori yang dipertandingkan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Empat kategori tersebut adalah 7, 12, 30, dan 52 kilometer.

"Gajah Trail Run Ultra 2026 ini pelaksanaan tahun keempat dengan kategori yang masih sama ada 7, 12, 30, 52 (KM)," kata Agus.

Jangkauan Peserta Meluas ke Tujuh Negara

Pertumbuhan jumlah pelari diikuti meluasnya asal peserta. Tahun ini, pelari datang dari tujuh negara, di antaranya New Zealand, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris. Pada penyelenggaraan lalu, peserta tercatat hanya berasal dari sekitar empat negara.

Empat kategori memiliki karakter medan berbeda. Kategori 52 kilometer menawarkan total elevasi sekitar 3.000 meter, disusul kategori 30 kilometer dengan elevasi sekitar 2.000 meter. Kategori 12 kilometer memiliki elevasi sekitar 800 meter, sedangkan kategori 7 kilometer sekitar 400 meter.

Untuk kategori 52 kilometer, penyelenggara mengubah rute dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, peserta tetap diarahkan menuju puncak Gunung Telomoyo dan melintasi tiga gunung.

"Nanti melewati tiga gunung, Gunung Gajah, Gunung Telomoyo, Gunung Kendil," ujar Agus.

Homestay Warga Penuh, Peserta Menginap Lebih Lama

Kedatangan ratusan pelari menggerakkan aktivitas ekonomi warga sekitar lokasi. Keterbatasan akomodasi di kawasan Kayuwangi membuat sejumlah rumah warga dimanfaatkan sebagai homestay untuk menampung peserta.

"Tentunya dengan jumlah peserta ini yang stay di sekitaran warga ini lumayan banyak. Karena memang tantangannya di desa sini adalah hotel masih belum begitu banyak," ujarnya.

Belanja peserta mengalir ke berbagai kebutuhan, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga aktivitas wisata. Agus memperkirakan rata-rata pengeluaran setiap peserta mencapai sekitar Rp 5 juta, termasuk biaya pendaftaran.

"Kalau kita hitung rata-rata peserta itu spending-nya Rp5 juta ya sudah termasuk pendaftaran, Rp5 juta kali 900 peserta berarti sekitar Rp4,5 miliar," jelasnya.

Panorama Tiga Gunung Jadi Daya Tarik Peserta

Dari kawasan Kayuwangi, pelari dapat menikmati panorama Gunung Telomoyo, Gunung Kendil, dan Gunung Gajah, sekaligus melihat Kota Salatiga dari ketinggian. Bentang alam itu menjadi tantangan sekaligus daya tarik tersendiri bagi peserta.

Salah satunya Rimba Simanjuntak, peserta kategori 52 kilometer yang datang dari Jakarta bersama lima rekannya. GTR Ultra menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba trail run jarak 52 kilometer.

"Ini kebetulan sama teman-teman kita mengikuti trail run, GTR ini. Dan kebetulan kami sama-sama ngambil yang kategori 52 km. Ini pertama kali, virgin trail lah di 52," kata Rimba.

Bersama lima rekannya, Rimba menargetkan menyelesaikan lintasan sebelum batas waktu atau cut off time (COT). Persiapan menghadapi tantangan tersebut dilakukan selama sekitar lima bulan.

"Jadi itu juga sebagai tantangan bagi kami yang sudah berumur, cukup berumur lah," ujar pria yang hampir mendekati kepala enam itu.

Rimba sudah berada di Kayuwangi sejak dua hari sebelum perlombaan. Setelah lomba, ia berencana tinggal sekitar dua malam lagi bersama keluarga untuk bersilaturahmi dengan kerabat di Salatiga, sekaligus berwisata ke sejumlah destinasi di Semarang, Salatiga, dan sekitarnya.

Ia sebenarnya ingin menginap di homestay warga agar bisa merasakan lebih dekat kehidupan masyarakat sekitar. Namun, seluruh homestay yang dicarinya sudah penuh sehingga ia memilih menginap di hotel.

"Penuh semua, sebetulnya homestay ini kan menarik buat anak-anak bersosialisasi seperti living lah, cuma penuh," ujarnya.

Selama berada di Kayuwangi, Rimba melihat langsung antusiasme warga menyambut para pelari. Di sejumlah titik, warga turut membantu mengarahkan peserta yang melintasi jalur perlombaan.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jatengpos.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks