SEMARANG — Distribusi air bersih menyasar 2.341.548 jiwa yang tersebar di 255 kecamatan dan 784 desa/kelurahan pada 33 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kebutuhan air warga dipenuhi melalui kolaborasi Pemprov Jateng, pemerintah kabupaten/kota, perusahaan, TNI, Polri, PMI, dan lembaga swadaya masyarakat.
Dari total 75.463.000 liter yang disalurkan, sebanyak 36.448.900 liter berasal dari dukungan ketersediaan air melalui APBD Pemprov Jateng dan pemerintah kabupaten/kota. Sumber lain mencakup 259.000 liter dari APBN serta 38.755.100 liter dari CSR perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat.
Sepuluh Kabupaten Catat Distribusi Air Tertinggi
Sejumlah daerah mencatat penyaluran air bersih dalam jumlah tinggi, di antaranya Klaten, Pemalang, Purbalingga, Boyolali, Grobogan, Banyumas, Sragen, Cilacap, Blora, dan Banjarnegara. Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas penyaluran karena tingkat kekeringan yang lebih parah dibanding daerah lain.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan penanganan kekeringan dilakukan lintas instansi. "Kekeringan sudah kita petakan. Semua komponen bergerak. BPBD bergerak, PMI bergerak, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota bergerak, TNI dan Polri bergerak. Untuk masyarakat kita salurkan air bersih," kata Luthfi di Semarang, Rabu (30/9/2026).
Sektor Pertanian Jadi Perhatian Berikutnya
Penanganan tidak berhenti pada pemenuhan air bersih rumah tangga. Pemprov Jateng meminta Dinas Pertanian dan Peternakan berkoordinasi dengan seluruh bupati dan wali kota beserta jajaran, termasuk TNI, untuk memetakan kebutuhan air di lahan pertanian.
Luthfi menyebut dua jenis sawah menjadi fokus pemetaan, yakni sawah tadah hujan dan sawah irigasi. "Untuk sawah itu ada dua macam, yaitu sawah tadah hujan dan sawah irigasi. Ini sudah kita koordinasikan juga dengan TNI melalui sumurisasi dan pipanisasi. Semoga target produksi padi dan komoditas pangan tidak meleset," ujarnya.
Langkah tersebut diambil untuk mencegah keterbatasan air selama musim kemarau berlanjut menjadi persoalan yang lebih besar terhadap produksi pangan.
Modifikasi Cuaca hingga Asuransi Gagal Panen Disiapkan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen sebelumnya mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak kekeringan dan menggunakan air bersih secara bijak. Pemerintah provinsi juga menyiapkan langkah lanjutan apabila kondisi kekeringan semakin parah, salah satunya pengajuan modifikasi cuaca kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Percepatan pembangunan dan penguatan tanggul serta bendungan juga didorong agar kapasitas tampungan air meningkat ketika hujan kembali turun. Perlindungan terhadap petani disiapkan untuk mengantisipasi risiko kerugian akibat kegagalan panen.
"Untuk antisipasi dampak kekeringan bagi petani juga sudah disiapkan asuransi gagal panen," kata Taj Yasin.