SOLO — Keputusan berjudi dengan mendatangkan tak kurang dari sepuluh pemain asing di bursa transfer paruh musim gagal mengubah nasib Persis Solo. Klub kebanggaan Kota Solo itu kini harus legawa setelah status degradasi ke Liga 2 musim depan resmi menjadi kenyataan.
Alih-alih memperbaiki performa tim, perombakan besar-besaran yang dilakukan manajemen justru tidak membawa perubahan signifikan. Pelatih Persis Solo, Milo, mengakui bahwa perubahan yang dilakukan timnya datang terlambat untuk menyelamatkan posisi tim di papan klasemen.
Keputusan untuk mengganti seluruh pemain asing di tengah musim merupakan langkah yang jarang dilakukan klub Liga 1. Namun, strategi berisiko tinggi ini justru membuat Persis Solo semakin terpuruk di papan bawah klasemen.
Dalam upaya menghindari degradasi, manajemen Persis Solo bergerak agresif di jendela transfer paruh musim. Total sepuluh pemain asing didatangkan ke markas tim di Stadion Manahan, Solo, dengan harapan bisa mengubah tren negatif.
Fakta menunjukkan bahwa kedatangan para pemain baru tersebut tidak mampu memperbaiki lini pertahanan maupun ketajaman lini depan Persis Solo. Hasil minor terus berlanjut hingga akhirnya tim juru kunci itu harus menerima kenyataan pahit degradasi.
Kegagalan ini menjadi catatan pahit bagi manajemen Persis Solo yang sudah menggelontorkan dana besar untuk belanja pemain. Langkah perjudian di bursa transfer yang biasanya dilakukan klub-klub papan atas untuk bersaing di puncak klasemen, kali ini justru berujung petaka.
Dengan status sebagai tim yang baru promosi ke Liga 1 beberapa musim lalu, Persis Solo kini harus kembali membangun fondasi tim dari Liga 2. Pertanyaan besar kini muncul: akankah manajemen belajar dari kegagalan ini atau kembali mengulang strategi serupa di masa depan?