BOYOLALI — Tradisi kirim karangan bunga besar untuk memeriahkan hari jadi daerah tahun ini resmi ditiadakan. Bupati Boyolali menerbitkan edaran yang mewajibkan semua pihak, dari dinas pemerintah hingga perusahaan swasta, untuk mengalihkan anggaran tersebut ke donasi bibit pohon. Langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap penghijauan dan pelestarian lingkungan di wilayah Boyolali.
Alih-alih memenuhi sudut kota dengan bunga potong yang layu dalam hitungan hari, Pemkab Boyolali mendorong donasi bibit pohon yang memiliki manfaat jangka panjang. Bibit yang terkumpul rencananya akan ditanam di area publik, seperti bantaran sungai, lahan kritis, dan fasilitas umum. Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa perayaan hari jadi tidak harus selalu identik dengan kemeriahan visual yang cepat habis.
Meski karangan bunga ditiadakan, kemeriahan HUT ke-179 tetap terasa. Rangkaian acara akan diisi dengan kirab budaya yang menampilkan kesenian tradisional khas Boyolali. Warga juga bisa menikmati soto gratis yang dibagikan di titik-titik keramaian. Perpaduan antara tradisi dan aksi lingkungan ini diharapkan bisa menjadi contoh perayaan yang lebih bermakna.
Selain alasan estetika, karangan bunga yang menumpuk seringkali berakhir di tempat pembuangan sampah dan tidak memiliki nilai guna setelah acara usai. Dengan menggantinya menjadi bibit pohon, Pemkab Boyolali ingin mengubah kebiasaan seremonial menjadi investasi ekologis. Langkah serupa sebelumnya juga pernah diterapkan di beberapa daerah lain di Jawa Tengah dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Bagi instansi atau lembaga yang ingin berpartisipasi, donasi bibit pohon bisa disalurkan melalui dinas terkait yang telah ditunjuk oleh Pemkab. Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai target jumlah bibit yang akan dikumpulkan selama perayaan HUT Boyolali kali ini.