Salah satu terobosan yang disorot adalah program Pak Rahman, akronim dari Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman. Melalui program ini, mobil pangan keliling secara rutin menjangkau ratusan titik hingga tingkat kelurahan setiap bulan.
“Kami melibatkan pedagang dan berbagai pemangku kepentingan dalam semangat gotong royong untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Agustina dalam forum yang mengusung tema “Navigating Resilience” itu.
Agustina menekankan bahwa stabilitas harga di Semarang memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian regional. Ia menyebut kontribusi Kota Semarang terhadap pembentukan inflasi Jawa Tengah mencapai sekitar 30 persen.
“Karena itu, menjaga stabilitas harga di kota ini memiliki dampak yang sangat besar terhadap perekonomian regional,” katanya.
Keberhasilan berbagai program di Semarang, menurut Agustina, tidak lepas dari kuatnya modal sosial masyarakat yang telah tumbuh selama ratusan tahun. Ia mencontohkan filosofi Warak Ngendog, simbol akulturasi budaya yang mengajarkan pentingnya menghadirkan solusi bersama.
Semangat kolaborasi yang sama juga menjadi fondasi revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang. Transformasi kawasan bersejarah itu mendorong pertumbuhan sektor pariwisata secara signifikan.
Hasilnya, Kota Semarang mencatatkan jumlah kunjungan wisatawan tertinggi di Jawa Tengah selama empat tahun berturut-turut. Posisi kota sebagai destinasi unggulan berbasis sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif pun semakin kuat.
Dalam kesempatan itu, Agustina menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri menghadapi tantangan perkotaan. Ia mengajak semua pihak untuk terus berdialog dan membangun gerakan bersama.
“Kota masa depan tidak dibangun oleh pemerintah sendirian. Kuncinya adalah dialog, kolaborasi, dan keberanian untuk turun langsung membangun gerakan bersama demi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Jakarta Future Festival 2026 yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraan ini menghadirkan ruang dialog lintas sektor untuk merancang kota yang tangguh melalui pendekatan budaya, seni, infrastruktur, hingga kebijakan publik.