SURAKARTA — Kembang Macan Kerah bukan sekadar tren musiman di media sosial. Racikan bunga ini telah dikenal sejak masa Keraton Kasunanan Surakata Hadiningrat, digunakan oleh para pangeran dan bangsawan setelah kembali dari medan perang.
Bendoro Raden Mas Prabu Wasistho, tokoh kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, pernah menjelaskan fungsi tradisi ini. Ia menyebut bahwa mandi dengan Kembang Macan Kerah bertujuan sebagai sarana pembersihan diri sekaligus menghindari sawan atau gangguan kesehatan setelah menjalani aktivitas berat.
“Hal ini ada agar terhindar dari sawan atau tulak sawan (virus penyakit) ataupun sawan yang bersifat nonmedis,” tulisnya dalam unggahan media sosial.
Selain sebagai ritual kebersihan spiritual, Kembang Macan Kerah juga berfungsi sebagai ramuan aromaterapi alami. Racikan bunga dan rempah yang terkandung di dalamnya dipercaya mampu membantu tubuh menjadi lebih rileks, mengurangi rasa lelah, serta menyegarkan badan setelah beraktivitas.
Momen malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa kerap dianggap sebagai waktu yang sakral. Banyak warganet di TikTok membagikan video tentang tradisi mandi menggunakan Kembang Macan Kerah, sehingga ramuan ini kembali mendapatkan perhatian luas di platform digital.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana warisan budaya Jawa tetap hidup dan diadaptasi oleh generasi muda melalui media sosial. Meski viral, esensi dari tradisi ini tetap sama: membersihkan diri secara lahir dan batin.