Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso, menyebut angka itu sebagai kabar positif di tengah tekanan habitat yang mengancam spesies endemik. “Ini menjadi kabar menggembirakan. Karena menunjukkan ekosistem hutan Gunung Merbabu masih mampu menopang kehidupan satwa liar endemik. Termasuk Surili Jawa dan Lutung Budeng,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Konsentrasi populasi terbesar ditemukan di kawasan Resor Selo, yang selama ini dikenal sebagai habitat utama Surili Jawa. Petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TN Gunung Merbabu mencatat keberadaan 16 individu pada area pengamatan seluas 96 hektare. Satu kelompok terbesar yang terpantau terdiri atas 13 individu.
Keberadaan satwa ini, menurut Anggit, menjadi barometer alami bagi kesehatan hutan pegunungan. Surili Jawa hanya bisa bertahan jika kondisi habitatnya terjaga, mulai dari ketersediaan pakan hingga tutupan kanopi yang rapat.
Kebakaran hutan yang melanda sebagian kawasan Gunung Merbabu dalam beberapa tahun terakhir sempat menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya populasi satwa liar. Namun, data pemantauan terbaru menunjukkan tren sebaliknya. “Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” kata Anggit.
Proses regenerasi alami hutan di area terdampak kebakaran mulai berlangsung. Tumbuhan bawah dan pohon-pohon muda kembali tumbuh, menyediakan sumber pakan bagi primata seperti Surili Jawa dan Lutung Budeng.
Surili Jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang populasinya semakin terbatas. Spesies ini sangat bergantung pada hutan pegunungan yang masih utuh. Tekanan terhadap habitat alaminya—akibat alih fungsi lahan, kebakaran, dan fragmentasi hutan—menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya.
Temuan 37 individu di Gunung Merbabu dinilai penting. Angka itu tidak hanya menunjukkan populasi yang stabil, tetapi juga mengonfirmasi bahwa kawasan konservasi tersebut masih berfungsi sebagai benteng terakhir bagi satwa liar di Jawa Tengah.