Rupiah Terperosok ke Rp17.813 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Jadi Biang Kerok

Penulis: Gunawan Susilo  •  Senin, 22 Juni 2026 | 12:22:31 WIB
Rupiah melemah ke Rp17.813 per Dolar AS seiring kenaikan harga minyak dunia.

JAWA TENGAH — Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,6% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Pergerakan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari itu. Tekanan jual terhadap aset berdenominasi rupiah terlihat sejak sesi pembukaan, dan terus berlanjut hingga penutupan.

Korelasi Harga Minyak dan Beban Impor Indonesia

Katalis utama pelemahan rupiah adalah kenaikan harga minyak mentah acuan Brent yang menembus level US$85 per barel. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas ini. Setiap kenaikan harga minyak secara langsung memperlebar defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan, yang pada akhirnya menekan nilai tukar.

"Korelasi antara harga minyak dan rupiah memang kuat. Ketika harga minyak naik, kebutuhan dolar untuk impor migas membengkak, sehingga permintaan valas meningkat," ujar analis pasar uang dari sebuah bank asing di Jakarta, yang enggan disebut namanya.

Sentimen Eksternal Makin Menekan

Selain faktor komoditas, penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar global turut memperberat rupiah. Indeks dolar bergerak di kisaran 105,8, didorong oleh pernyataan hawkish pejabat The Fed soal potensi penundaan pemangkasan suku bunga. Situasi ini membuat investor global cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di pasar obligasi, tekanan juga terlihat. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 8 basis poin ke level 7,15%, menandakan investor meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko kepemilikan aset rupiah di tengah volatilitas kurs.

Apa Langkah BI Selanjutnya?

Pelaku pasar kini menanti respons Bank Indonesia (BI). Gubernur BI sebelumnya telah menegaskan komitmen untuk melakukan intervensi ganda—di pasar spot dan DNDF—guna menjaga stabilitas rupiah. Namun, efektivitas intervensi di tengah tekanan eksternal yang masif kerap terbatas.

Para ekonom memperkirakan BI kemungkinan akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% pada RDG bulan ini. Fokus utama bank sentral saat ini adalah stabilitas nilai tukar, bukan mendorong pertumbuhan, mengingat inflasi inti masih terkendali.

Untuk perdagangan Selasa (23/6), pasar akan mencermati data inflasi AS yang dijadwalkan rilis malam nanti. Angka inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi kembali memperkuat dolar dan menekan rupiah lebih dalam.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: mediaindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top