JAWA TENGAH — Musim comeback penuh Honda di Formula 1 sejak 2021 tidak berjalan mulus. Alih-alih meneruskan kesuksesan bersama Red Bull, pabrikan Jepang ini justru diterpa badai masalah teknis yang serius sejak tes pramusim. Unit daya baru untuk regulasi 2026 terbukti tidak kompetitif dan bermasalah secara struktural.
Kegagalan berulang pada sistem baterai menjadi sumber utama kekacauan. Akibatnya, jarak tempuh Fernando Alonso dan Lance Stroll sangat terbatas selama sesi pengujian. Kedua pembalap bahkan dilaporkan merasakan getaran berbahaya dari baterai yang berpotensi merusak saraf tangan mereka.
Meskipun masalah getaran kini mulai terkendali, kekurangan data dan pengujian di lintasan membuat Honda tertinggal jauh dari pesaing. Mesin pembakaran internal (ICE) Honda bahkan diperkirakan akan dinilai sebagai yang terburuk oleh FIA, meski regulasi baru memberi celah untuk peningkatan performa di tengah musim.
Di tengah tekanan, Koji Watanabe angkat bicara. Ia menegaskan tidak ada perubahan komitmen Honda terhadap proyek F1 bersama Aston Martin. "Tidak ada perubahan dalam evaluasi kami atau komitmen kami terhadap HRC atau aktivitas motorsport pada tahap ini," kata Watanabe dalam pernyataan resmi.
"Mengambil tantangan Formula 1 tetap menjadi bagian dari DNA Honda – dan itu tidak berubah. Kami memiliki komitmen jangka panjang," tegasnya. Manajemen Honda disebut sangat serius menangani situasi ini dan tidak puas dengan hasil awal yang ada.
Watanabe mengakui ada pemahaman bersama di internal Honda bahwa perbaikan besar masih diperlukan. Namun, ia menekankan proyek ini harus dievaluasi dalam jangka menengah hingga panjang, bukan semata-mata dari hasil balapan tahun ini. "Manajemen terus memberikan dukungan kuat dan harapan dengan fokus pada proses penyelesaian tantangan yang kami hadapi," ujarnya.
Honda kembali menjadi pemasok mesin penuh untuk pertama kalinya sejak akhir 2021 setelah sebelumnya hanya terlibat secara teknis. Kemitraan dengan Aston Martin dianggap sebagai proyek ambisius, namun awal yang buruk ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan dan kemampuan teknis pabrikan asal Jepang tersebut.