SEMARANG — Ratusan sekolah dasar negeri di Kota Semarang kembali menjadi perhatian pemerintah kota. Dari total 325 SD negeri yang tersebar di 16 kecamatan, lebih dari 30 titik di antaranya dipastikan masuk skema perbaikan pada tahun anggaran 2026. Angka ini direncanakan meningkat menjadi lebih dari 40 lokasi pada 2027.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan, mengungkapkan bahwa pengerjaan puluhan sekolah tersebut tidak dilakukan serentak. Sebagian proyek masih dalam tahap penayangan lelang, beberapa telah mendapatkan penyedia jasa, dan lainnya sudah memasuki pekerjaan fisik di lapangan.
Salah satu sekolah yang masuk daftar prioritas adalah SD Negeri Pendrikan Lor 02. Sejumlah bagian bangunan sekolah yang terletak di kawasan pusat kota ini mengalami kerusakan dengan kategori bervariasi, mulai dari sedang hingga berat.
Ahsan menyebut sekolah tersebut akan menjalani asesmen lebih lanjut oleh bidang sarana dan prasarana untuk memetakan bagian bangunan mana saja yang membutuhkan penanganan. "SD Negeri Pendrikan Lor 02 sudah masuk skema untuk yang kami perbaiki pada tahun 2026. Jadi, tahun ini nanti sudah bisa kami perbaiki agar lebih nyaman untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran anak-anak murid kita semuanya," ungkapnya, Jumat (30/7/2026).
Disdik Kota Semarang menerapkan sistem pembiayaan berbeda berdasarkan tingkat kerusakan bangunan. Untuk pemeliharaan ringan seperti menambal plafon bocor atau mengganti engsel pintu, sekolah dapat menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Sementara itu, kerusakan kategori sedang hingga berat menjadi tanggung jawab penuh Dinas Pendidikan. "Kalau pemeliharaan yang ringan itu bisa menggunakan dana BOS. Untuk yang sedang dan berat tentu dari Dinas Pendidikan," jelas Ahsan.
Hingga saat ini, Disdik belum merinci total anggaran yang disiapkan untuk program perbaikan tahun ini. Pasalnya, kebutuhan biaya setiap sekolah berbeda-beda tergantung kondisi bangunan dan volume pekerjaan yang diperlukan.
Dengan jumlah SD negeri mencapai 325 sekolah, pemeliharaan bangunan menjadi pekerjaan berulang yang harus dianggarkan setiap tahun. Ahsan mengakui bahwa sekolah yang telah diperbaiki tahun lalu bisa kembali membutuhkan perawatan di tahun-tahun berikutnya, sementara bangunan lain yang sebelumnya baik mulai menunjukkan kerusakan.
"Jumlahnya cukup banyak. Dari tahun ke tahun ada yang kita perbaiki, tapi juga ada yang mulai perlu pemeliharaan lagi. Jadi selalu bergantian," katanya.
"Yang kemarin sudah kita perbaiki, nanti yang dulunya bagus berganti perlu dilakukan pemeliharaan lagi. Jadi memang berurutan terus, berputar terus," tandas Ahsan.
Program perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan kegiatan belajar mengajar di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah kota. Masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan proyek perbaikan sekolah dapat memantau laman resmi Disdik Kota Semarang atau bertanya langsung ke pihak sekolah masing-masing.