210 Pakar Teknologi Pendidikan dari 33 Kampus Kumpul di Semarang, Standarisasi Kurikulum Era AI hingga Mikrokredensial Dibahas

Penulis: Joko Purnomo  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:54:31 WIB
pakar teknologi pendidikan dari 33 kampus menghadiri Temu Kolegial ke-11 di Semarang.

SEMARANG — Asosiasi Program Studi Teknologi Pendidikan Indonesia (APS-TPI) dan Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) resmi meluncurkan sejumlah terobosan dalam Temu Kolegial ke-11 dan Konferensi Internasional ke-2 yang digelar di Kota Semarang. Selain standarisasi kurikulum inti, asosiasi juga memperkuat kolaborasi akreditasi dan pengembangan jurnal internasional bereputasi.

Ketua APS-TPI, Prof. Andi Kristanto, menyebut pertemuan yang dihadiri delegasi dari kampus-kampus ternama seperti UNJ, UNESA, UPI, hingga UNM ini juga meluncurkan tiga buku referensi baru. Antusiasme peserta disebut sangat tinggi, dengan rangkaian acara yang mencakup pemberian penghargaan dan lomba inovasi mahasiswa tingkat nasional.

Program Mikrokredensial: Kuliah di Luar Kampus Dipermudah

Salah satu keputusan krusial yang dihasilkan adalah peluncuran program mikrokredensial. Program ini dirancang untuk memfasilitasi mahasiswa agar bisa menempuh pembelajaran di luar kampus utama, sebuah kebutuhan yang semakin mendesak di tengah tuntutan industri digital.

“Kami juga meluncurkan tiga buku referensi baru dan memperkuat kolaborasi untuk akreditasi serta pengembangan jurnal internasional bereputasi,” ujar Andi Kristanto di sela-sela acara.

Etika Guru Tidak Bisa Digantikan Mesin

Di tengah gempuran teknologi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Tengah, Mohammad Arief Irwanto, mengingatkan bahwa peran guru sebagai penanam nilai moral tidak boleh tergerus. Menurutnya, teknologi hanyalah sarana untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan inklusif hingga ke daerah terpencil.

“Teknologi harus menjadi sarana untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, inklusif, dan menjangkau daerah terpencil, namun etika serta kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi utama,” kata Arief yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

UNNES Siapkan Lulusan untuk Posisi Strategis Industri Digital

Sebagai tuan rumah, UNNES menekankan pentingnya adaptasi kurikulum yang cepat tanpa menghilangkan esensi kemanusiaan. Prof. Nur Qudus menyoroti kebutuhan industri akan lulusan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan kreatif.

“Lulusan ini disiapkan untuk mengisi posisi strategis seperti perancang instruksional yang sangat dibutuhkan di era digital,” terang Prof. Nur Qudus. Posisi tersebut dinilai menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan metode pembelajaran di ruang kelas.

Konferensi yang digelar di Hotel Horison Ultima Sentraland ini menjadi ajang bagi para akademisi untuk berbagi riset dan praktik baik dalam mengintegrasikan AI ke dalam sistem pembelajaran nasional. Hingga hari terakhir, para peserta dijadwalkan membahas peta jalan pengembangan teknologi pendidikan Indonesia ke depan.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: joglojateng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top