KUDUS — Program Golek Garwo yang Sah dan Harmoni (GEGASH) yang digelar PCNU Kabupaten Kudus tidak sekadar mempertemukan peserta. Panitia memantau setiap tahapan mulai dari pendaftaran, ta'aruf, hingga pertemuan antarpeserta dengan bimbingan langsung para kiai NU.
Ketua LKKNU Kudus Sutejo menyebut pendaftaran dibuka sejak empat bulan sebelum acara. Antusiasme warga terbilang tinggi, dengan total pendaftar mencapai 220 orang.
Dari 150 undangan yang disebar panitia untuk sesi pertemuan langsung, sebanyak 125 peserta hadir di lokasi. Peserta tidak hanya diberi ruang saling mengenal, tetapi juga pendampingan agar proses ta'aruf berjalan terarah dan sesuai nilai agama.
Jumlah pendaftar yang besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat keberhasilan menemukan pasangan. Evaluasi panitia menempatkan tingginya standar peserta sebagai tantangan terbesar.
"Kadang yang menjadi kendala itu ego masing-masing. Ada yang menginginkan pasangan harus tampan, cantik, kaya, atau berasal dari keturunan tertentu. Padahal, membangun rumah tangga membutuhkan kesiapan dan kesungguhan," terang Sutejo.
Untuk meluruskan persepsi itu, kegiatan dibekali pengajian kitab kuning Qurratul Uyun yang membahas tata cara pernikahan dan kehidupan rumah tangga dalam Islam. Kajian tersebut diharapkan membantu peserta menimbang kembali kriteria pasangan secara lebih bijak.
Meski menghadapi tantangan ego peserta, GEGASH tercatat mengantarkan sejumlah peserta menuju pelaminan. Sutejo mencontohkan seorang peserta perempuan berprofesi dokter lulusan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) yang akhirnya berjodoh dengan peserta laki-laki berpendidikan sarjana.
"Kesungguhan komunikasi dan niat baik untuk bersilaturahmi kepada keluarga calon pasangan menjadi bagian penting dari proses tersebut," tandasnya.
Pengalaman itu turut dirasakan F, peserta perempuan asal Kudus yang baru menyelesaikan pendidikan S2. Kesibukannya di Semarang membuat ruang bersosialisasi dan mencari pasangan di kampung halaman menjadi terbatas.
"Karena pendidikan sudah selesai dan usia juga dirasa sudah waktunya menikah, saya mencoba mengikuti ta'aruf ini. Ini kali kedua saya ikut, karena sebelumnya belum menemukan pasangan yang cocok," tutur F.
LKKNU Kudus memposisikan GEGASH sebagai ikhtiar mempertemukan peserta yang serius melangkah ke jenjang pernikahan, bukan sekadar ajang perkenalan. Pendampingan kiai dan kajian kitab kuning menjadi pembeda dari program serupa.
Bagi warga Kudus yang belum menemukan pasangan, skema pendaftaran dan seleksi bertahap menjadi rujukan untuk mengikuti gelaran berikutnya. Panitia menekankan kesiapan mental dan kesungguhan komunikasi sebagai kunci, bukan sekadar tingginya kriteria di atas kertas.