Pencarian

Tiga Pendiri Mercor Jadi Miliarder AI Termuda di Usia 22 Tahun

Senin, 26 Oktober 2026 • 21:20:31 WIB
Tiga Pendiri Mercor Jadi Miliarder AI Termuda di Usia 22 Tahun
Tiga pendiri Mercor masuk daftar miliarder Forbes 2026 pada usia 22 tahun.

JAWA TENGAH — Tiga pendiri startup rekrutmen AI Mercor resmi masuk daftar miliarder Forbes 2026 pada usia 22 tahun, menjadikan mereka miliarder self-made termuda yang pernah tercatat, melampaui Mark Zuckerberg. Ketiganya menjadi miliarder setelah Mercor meraup pendanaan USD 350 juta dengan valuasi USD 10 miliar pada Oktober 2025. Fenomena ini menandai pergeseran lanskap kekayaan di sektor AI, di mana pendiri muda mendominasi daftar miliarder dunia.

Forbes mencatat 35 miliarder berusia di bawah 30 tahun dalam Daftar Miliarder Dunia 2026, angka tertinggi sepanjang sejarah daftar tersebut. Dari jumlah itu, 12 orang meraih kekayaan dari jerih payah sendiri, bukan warisan. Enam di antaranya membangun bisnis di bidang kecerdasan buatan dan teknologi, dengan mayoritas merupakan mahasiswa yang memilih berhenti kuliah.

Mercor Melampaui Rekor Mark Zuckerberg

Surya Midha, Brendan Foody, dan Adarsh Hiremath menjadi miliarder self-made termuda yang pernah masuk daftar Forbes pada usia 22 tahun. Ketiganya melampaui Mark Zuckerberg, yang pertama kali masuk daftar tersebut pada usia 23 tahun.

Midha meninggalkan Georgetown University pada 2023 untuk mendirikan Mercor bersama dua teman masa kecilnya. Lahir di California dari orang tua imigran India, ia sempat dikenal sebagai pendebat tingkat SMA sebelum terjun ke dunia wirausaha.

Mercor berawal dari ide yang dikembangkan di ajang hackathon untuk menghubungkan pelaku bisnis dengan teknisi ahli di luar negeri. Proyeksi pendapatan tahunan perusahaan menembus USD 1 juta hanya dalam sembilan bulan sejak berdiri.

Pada Oktober 2025, Mercor meraup pendanaan USD 350 juta dengan valuasi USD 10 miliar. Forbes menaksir kekayaan masing-masing pendiri mencapai USD 2,2 miliar. Pendapatan kotor tahunan perusahaan dilaporkan melampaui USD 2 miliar pada Juni.

Midha kini menjabat chairman setelah sebelumnya memegang posisi chief operating officer. Hiremath, yang meninggalkan Harvard setelah dua tahun, menjabat chief technology officer dan mengawasi sistem penilaian kandidat serta pencocokan tenaga spesialis dengan perusahaan AI.

"Hal gila bagi saya adalah, jika saya tidak menggarap Mercor, saya mungkin baru saja lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Hidup saya berubah 180 derajat dalam waktu yang begitu singkat," kata Hiremath, mengenang saat drop out.

Foody mengaku sudah berniat berhenti kuliah sebelum ujian akhir tahun kedua di Georgetown. Ia dikenal dengan jadwal kerja padat dan mengaku telah bekerja setiap hari selama tiga tahun berturut-turut.

Lovable dan Polymarket di Jalur Vibe Coding

Fabian Hedin, 27 tahun, putus kuliah dari KTH Royal Institute of Technology Stockholm dan mendirikan Lovable pada 2023 bersama Anton Osika. Platform itu memungkinkan pengguna membangun situs dan aplikasi hanya dengan mendeskripsikan keinginan melalui prompt.

Produk pengembangan software berbasis AI Lovable meluncur pada November 2024 dan cepat menjadi pemimpin di segmen vibe coding, teknik yang memungkinkan siapa saja mengembangkan software menggunakan instruksi bahasa alami. Lovable mencapai valuasi USD 6,6 miliar pada Desember 2025, menjadikan Hedin dan Osika miliarder dengan kekayaan masing-masing USD 1,6 miliar.

Shayne Coplan, 28 tahun, berhenti kuliah dari New York University dan mendirikan platform pasar prediksi online Polymarket pada 2020 saat berusia 21 tahun. Perusahaan awalnya beroperasi dari kamar mandi apartemennya di New York sebelum menghadapi tantangan regulasi, termasuk denda penyelesaian sengketa USD 1,4 juta kepada otoritas AS pada 2022.

Coplan sempat menyandang gelar miliarder self-made termuda pada usia 27 tahun di Oktober 2025, setelah Intercontinental Exchange, induk New York Stock Exchange, menginvestasikan USD 2 miliar di Polymarket dengan valuasi sekitar USD 9 miliar. Gelar itu hanya bertahan 20 hari sebelum disalip tiga pendiri Mercor.

Scale AI dan Jalur Labeling Data

Alexandr Wang, 29 tahun, putus kuliah dari Massachusetts Institute of Technology dan mendirikan Scale AI pada 2016 bersama Lucy Guo. Perusahaan menyediakan layanan pelabelan data dan software yang digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan.

Dibesarkan di New Mexico oleh orang tua fisikawan, Wang pindah ke Silicon Valley pada usia 17 tahun setelah lulus SMA setahun lebih cepat. Scale AI kini menjadi salah satu pemasok data pelatihan utama bagi pengembang model AI besar.

Daftar Forbes 2026 menegaskan pergeseran konsentrasi kekayaan ke sektor AI. Enam pendiri muda dalam daftar tersebut membangun bisnis dari nol tanpa modal warisan, dengan jalur berbeda: rekrutmen tenaga ahli, pengembangan software berbasis prompt, pasar prediksi, hingga infrastruktur data pelatihan model.

Bagi ekosistem startup Indonesia, pola ini memberi sinyal bahwa pendanaan besar di sektor AI kini mengalir ke perusahaan yang menyelesaikan masalah konkret, bukan sekadar mengembangkan model. Valuasi tinggi datang dari pendapatan berulang dan basis pelanggan perusahaan, bukan dari janji teknologi semata.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks