SLAWI — Percepatan pembentukan Destana menyasar dua desa di Kecamatan Warureja yang dinilai rawan bencana berulang. BPBD Kabupaten Tegal menempatkan program ini sebagai upaya memperkuat kapasitas kelembagaan lokal, bukan sekadar seremonial pembentukan kelompok.
Wilayah Kecamatan Warureja menghadapi ancaman musiman yang datang silih berganti. Banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor menjadi tiga jenis bencana yang paling sering diantisipasi warga setempat.
Mengapa Warureja dan Kedungjati Jadi Prioritas
Dua desa di Kecamatan Warureja dipilih karena riwayat bencana yang berulang tiap tahun. BPBD menilai kawasan ini perlu kesiapan warga yang terorganisasi, bukan hanya bantuan darurat saat bencana tiba.
Selain melindungi warga, pembentukan Destana bertujuan mengoptimalkan peran kelompok rentan dalam pengelolaan risiko. Kelompok ini mencakup lansia, ibu hamil, anak-anak, dan warga disabilitas yang paling terdampak saat bencana terjadi.
Pemerintah desa diminta menyiapkan kesiapan matang, termasuk alokasi anggaran khusus untuk mitigasi. Dengan begitu, kerugian akibat bencana tahunan bisa ditekan seminimal mungkin.
Destana Harus Berasal dari Usulan Desa, Bukan Instruksi Atas
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal Untung Subagyo melalui Sekretaris Badan M. Affifudin menegaskan bahwa pembentukan Destana tidak bisa dipaksakan dari atas. Inisiatif harus lahir dari pemerintah desa sendiri.
"Destana ini harus berasal dari usulan desa. BPBD hanya bisa sebatas mendorong agar pemerintah desa lahir inisiatif untuk membentuk Destana," ungkap M. Affifudin pada Selasa (27/10/2026).
Bagi desa yang belum memiliki Destana, tim BPBD memberikan edukasi mendalam agar pemerintah desa tergerak mengambil inisiatif. Pendekatan ini ditempuh supaya kesiapsiagaan tumbuh dari kesadaran warga, bukan keterpaksaan memenuhi target program.
Pembinaan Berkelanjutan untuk Desa yang Sudah Terbentuk
Desa yang sudah membentuk Destana tidak dilepas begitu saja. BPBD Kabupaten Tegal memberikan pendampingan komprehensif, mulai dari pola latihan rutin hingga penyusunan dokumen program kegiatan.
Pembagian anggaran dan sumber daya menjadi kunci percepatan program. Menurut Affifudin, pembentukan Destana berjalan secara rutin dan berkesinambungan, tidak berhenti pada satu kali pencanangan.
Kolaborasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah memperluas jangkauan pembinaan. Sinergi lintas tingkatan pemerintahan ini memastikan setiap wilayah memiliki kapasitas memadai saat menghadapi situasi darurat.
Langkah berikutnya, BPBD Kabupaten Tegal mendorong desa-desa lain di Kecamatan Warureja menyusul pembentukan Destana. Kemandirian wilayah dalam menghadapi ancaman alam menjadi target akhir dari rangkaian pembinaan ini.