PEMALANG — Keranda itu dibawa masuk ke ruang panitia Pilkades Desa Taman, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Massa pendukung bakal calon Agus Feriyanto dan Triyatno Yuliharso menunjuk keranda sambil berseru agar pihak yang tidak jujur masuk ke dalamnya.
"Sing ora jujur lebokna méné!" teriak salah seorang pendukung, seperti dikutip dari laporan puskapik.com.
Seruan lain menyusul dari kerumunan. "Ayo sumpah, nginung banyu taman," sahut massa lainnya.
Hasil Tes Tertulis yang Dipersoalkan
Protes berakar pada hasil tes tertulis yang menentukan lima bakal calon lolos ke tahap berikutnya. Tujuh orang mengikuti seleksi, dan panitia mengumumkan perolehan nilai masing-masing.
Witno mendapat 98, Usup Sumanang 97, Indah Kuswati 98, dan Rifki Romadhoni 98. Agus Feriyanto, Kusmiasih, dan Triyatno Yuliharso masing-masing meraih 96.
Massa menduga ada kekeliruan dalam penghitungan tes tertulis. Mereka meminta panitia membuktikan kejujuran proses seleksi, bukan sekadar menyerahkan keputusan pada angka.
Blumbang Beji dan Kepercayaan yang Diwariskan
Sumpah Banyu Taman merujuk pada kolam tua di Desa Taman yang disebut Blumbang Beji. Air kolam itu dipercaya sebagian warga memiliki kekuatan menyelesaikan perselisihan.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, orang bersalah akan merasakan efek seperti sakit setelah meminum airnya. Kepercayaan itu masih dikenal sebagian masyarakat Kabupaten Pemalang.
Nama Beji mengacu pada Kelurahan Beji yang berbatasan langsung dengan Desa Taman. Namun lokasi blumbang yang dikaitkan dengan tradisi ini kini berada di wilayah Desa Taman.
Kisah Mbah Alif dan Mbah Menu di Balik Nama Beji
Aisyah, warga yang menuturkan kisah itu, menyebut Mbah Alif sebagai tokoh berpengaruh di Desa Taman. Mbah Menu adalah tokoh yang disegani di Desa Beji.
Keduanya disebut berhubungan baik, meski sama-sama memiliki kemampuan yang membuat mereka saling menguji. Cerita bermula saat Mbah Alif berkunjung ke rumah Mbah Menu.
Pintu rumah itu disebut terbuka sendiri, disertai suara engsel menyerupai rintihan orang menangis. Mbah Alif tersinggung karena menilai kejadian itu bentuk pamer ilmu.
Usai perbincangan panjang, Mbah Alif memasukkan tulang ikan bakar ke kobokan. Tulang-tulang itu konon menyatu kembali dan bergerak seperti kerangka ikan hidup di dalam air.
Mbah Menu lalu menantang Mbah Alif membawa pulang blumbang di belakang rumahnya. Mbah Alif disebut mampu memindahkannya dalam sekejap, dan sejak itu blumbang berpindah ke dekat rumahnya di Desa Taman.
Tekanan untuk Panitia Pilkades
Aksi protes menempatkan panitia Pilkades Taman pada posisi sulit. Tuntutan massa bukan hanya soal hitung ulang, tetapi juga pembuktian moral lewat tradisi yang hidup di kampung itu.
Belum ada keterangan resmi dari panitia soal tuntutan sumpah Banyu Taman maupun dugaan kekeliruan tes tertulis. Tahapan Pilkades di Desa Taman menunggu keputusan lanjutan dari pihak penyelenggara.