SEMARANG — Gelaran Wisuda Program Doktor (S3) ke-44, Program Magister (S2) ke-69, dan Sarjana (S1) ke-102 di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang menjadi saksi pencapaian Husni. Putra pasangan petani dan pedagang jajanan pasar itu meraih predikat wisudawan terbaik tingkat FEBI dan tingkat universitas.
Husni mengaku predikat tersebut bukan target yang dipatok sejak awal. Ia hanya berpegang pada prinsip sederhana bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha.
“Perasaan saat pertama kali mendengar sebagai wisudawan terbaik tentunya terharu dan senang, karena awalnya bukan target. Saya hanya berusaha semaksimal mungkin untuk lulus dan mengerjakan tugas dengan baik,” ungkap Husni.
Kabar itu pertama kali ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Sang ibu dan ayah menangis bangga, sebab melihat anaknya lulus saja sudah menjadi kebahagiaan besar bagi mereka.
Jalan Husni menuju wisuda tidak mulus. Pada awal perkuliahan, ia menghadapi keterbatasan fasilitas, mulai dari laptop usang hingga tidak punya kendaraan pribadi di kota orang.
Tekanan mental itu sempat membuatnya ingin menyerah. Husni bahkan mendaftar kerja dan mengikuti seleksi CPNS di tengah masa studi.
Nasihat dari orang-orang sekitar, mulai dari pengemudi ojek hingga rekan kuliah, membuatnya sadar bahwa ia sudah berada di tengah jalan dan harus menyelesaikannya.
Di bidang akademik, Husni menulis skripsi berjudul “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Perusahaan yang Tercatat di Jakarta Islamic Index (JII) Periode 2021-2025)”.
Penelitian itu menemukan bahwa nilai sebuah perusahaan tidak melulu berhubungan langsung dengan variabel keuangan konvensional. Temuan tersebut membuka ruang eksplorasi lebih luas bagi peneliti selanjutnya.
Sebagai mahasiswa FEBI yang bervisikan Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences), Husni berupaya menyelaraskan ilmu umum dan ilmu agama. Keduanya ia yakini sama penting untuk kesuksesan dunia dan akhirat.
Kesibukan akademik tidak membuat Husni menjadi mahasiswa kupu-kupu. Ia aktif di Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) dan JQH el-Febis.
Di sela kuliah dan organisasi, Husni bekerja paruh waktu sebagai kru katering, wedding organizer, dan tim rebana. Pekerjaan itu menjadi sumber pengalaman sekaligus tambahan uang saku dan biaya tugas.
Banyak mahasiswa khawatir IPK turun karena berorganisasi. Husni mematahkan anggapan itu.
“Ikut organisasi justru membantu menaikkan kualitas diri asalkan kita bisa membagi waktu dan ingat tujuan utama yaitu kuliah. Jangan menyia-nyiakan kesempatan selama di kampus,” pesannya.
Kepercayaan dosen sempat diberikan kepadanya untuk menjadi pengawas ujian kelas lain.
Setelah lulus, Husni berencana terjun ke dunia kerja lebih dulu. Ia ingin mencari pengalaman dan mengumpulkan biaya sebelum melanjutkan studi ke jenjang magister.
Rencana itu diambil demi meringankan beban kedua orang tuanya. Husni juga menitipkan pesan bagi adik-adik tingkatnya di UIN Walisongo Semarang.
“Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan selama masa perkuliahan. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar, aktif berorganisasi, dan jangan takut gagal. Ingatlah bahwa kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang mempersiapkan diri agar kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” tuturnya.
Ia berharap almamaternya semakin maju, unggul, dan melahirkan generasi berakhlak mulia. UIN Walisongo Semarang juga ia harapkan terus menjaga nilai keilmuan, kemanusiaan, dan moderasi beragama.