SEMARANG — Wisuda ke-102 UIN Walisongo Semarang diikuti 793 lulusan dari berbagai jenjang. Rinciannya, 8 doktor, 27 magister, dan 758 sarjana. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menjadi salah satu penyumbang lulusan terbanyak dengan 153 sarjana.
Dina menempuh kuliah di FITK, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Sejak awal perkuliahan, ia menghadapi kebutuhan aksesibilitas tersendiri karena menggunakan kursi roda. Kondisi itu tidak menghentikannya mengikuti kegiatan akademik seperti mahasiswa lain.
Penyesuaian Ruang Kelas hingga Bantuan PPL dan KKN
Selama menjalani perkuliahan, Dina mendapat perhatian dari dosen, teman-teman, dan pengelola program studi. Salah satu bentuknya adalah penyesuaian penempatan ruang kelas agar mudah dijangkau kursi roda.
Bantuan serupa diberikan saat ia menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Kuliah Kerja Nyata (KKN), sampai proses penyelesaian skripsi. Dina menyebut Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan turut memastikan kebutuhan aksesibilitasnya terpenuhi.
"Setiap KRS-an juga selalu dibantu untuk mendapatkan ruangan yang bisa saya akses. PPL, KKN, semuanya dibantu. Bu Kajur dan Sekjur juga baik sekali," ungkap Dina.
Kehilangan Ayah di Tengah Pengerjaan Skripsi
Ujian hidup datang saat Dina tengah menyelesaikan skripsi. Sang ayah meninggal dunia pada periode tersebut, membuat proses tugas akhirnya sempat berat.
Di titik itu, pihak kampus kembali turun tangan. Bantuan diberikan agar Dina bisa merampungkan skripsi secepatnya dan tetap ikut wisuda periode November 2026.
"Bahkan saat skripsian juga sangat dibantu sekali. Waktu itu kebetulan ayah saya meninggal, kemudian saya dibantu untuk bisa menyelesaikan skripsi secepatnya. Dan akhirnya bisa wisuda," tuturnya.
Pesan untuk Mahasiswa yang Belum Lulus
Dina menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi. Ia meminta mereka tidak mudah menyerah dan terus mengejar cita-cita.
"Buat teman-teman yang sekarang sedang wisuda, selamat. Buat yang belum, tetap semangat, kejar mimpi kalian, selesaikan skripsinya, supaya bisa membanggakan orang tua dan membuat mereka hadir di wisuda kalian. Pokoknya tetap semangat, UIN Walisongo terbaik," pesannya.
Perjalanan Dina menjadi salah satu cerita yang menonjol dalam wisuda kali ini. Ia menilai dukungan lingkungan kampus yang inklusif membuat kesempatan belajar yang setara bisa terwujud nyata, bukan sekadar jargon.