JAWA TENGAH — Film dokumenter garapan sutradara Finlandia Vesa Kuosmanen, Fruitcakes: Dawn of Drag, resmi menggelar tayang perdana dunia di Festival Film Tallinn Black Nights (PÖFF) ke-30 di Estonia. Dokumenter ini mengangkat kisah Happy Gays, pertunjukan drag pertama di Finlandia pada akhir 1970-an, sekaligus mengenang pendirinya, Mummo, yang dibunuh pada 1988. Rise and Shine memegang hak penjualan internasional film yang memadukan rekaman arsip, latihan, dan reka ulang pertunjukan legendaris tersebut.
Vesa Kuosmanen menyutradarai Fruitcakes: Dawn of Drag setelah melihat langsung bangunan tempat Mummo tewas dari jendela apartemennya di Helsinki. Film ini masuk kompetisi Doc@PÖFF International Competition dan menjadi salah satu judul yang ditunggu di ajang bergengsi tersebut.
Happy Gays sendiri bukan sekadar pertunjukan hiburan. Panggung itu menjadi ruang bagi Mummo, salah satu pria gay pertama yang terbuka di Finlandia, dan sahabatnya Jolanda, untuk tampil di depan penonton yang besar dan bangga.
Dari Panggung Drag ke Tragedi 1988
Kebahagiaan pertunjukan Happy Gays tidak bertahan lama. Ketika krisis AIDS melanda, ketakutan dan kekerasan ikut muncul. Pada 1988, Mummo ditemukan tewas di rumahnya di Helsinki.
Peristiwa itu menjadi titik balik yang membentuk arah dokumenter ini. Kuosmanen menelusuri kisah pembunuhan Mummo sebagai pintu masuk untuk memahami bagaimana rasa takut terhadap perbedaan berubah menjadi kemarahan.
Jolanda dan Arsip yang Tersimpan 30 Tahun
Jolanda, seorang arsiparis pensiunan berusia 70 tahun, menyimpan hampir semua dokumentasi Happy Gays. Kliping koran, foto, dan catatan pertunjukan tersimpan rapi selama lebih dari tiga dekade setelah kematian Mummo.
Kuosmanen mengaku awalnya sulit menemukan narasumber yang mau membicarakan masa itu. "Hampir terasa seperti sejarah Finlandia yang terlupakan," ujarnya kepada THR.
Pertemuan dengan Jolanda mengubah segalanya. Meski disebut sebagai protagonis dokumenter yang paling tidak mungkin karena enggan tampil di kamera dan punya selera humor sinis, keduanya perlahan menjadi akrab.
Reka Ulang Happy Gays dan Generasi Drag Baru
Rekaman asli Happy Gays dari arsip penyiar publik Finlandia ternyata tidak cukup untuk membangun narasi visual. Tim kreatif kemudian memutuskan merekonstruksi pertunjukan legendaris itu.
Kuosmanen mengajak generasi baru seniman drag untuk menghidupkan kembali Happy Gays di atas panggung. Hasilnya adalah perpaduan rekaman arsip, latihan, dan reka ulang yang mempertemukan kenangan bahagia dengan luka lama.
Pendekatan ini juga memberi ruang bagi sisi lain Jolanda yang selama ini terlihat keras. Film menampilkan sosok perintis yang berjasa besar namun tetap manusia dengan segala kekurangannya.
Judul yang Mengambil Kembali Sejarah
Judul Fruitcakes bukan pilihan sembarangan. Kuosmanen menyebutnya sebagai upaya merebut kembali istilah dan sejarah yang pernah dipakai untuk merendahkan komunitas queer.
Inspirasi film ini muncul beberapa tahun lalu ketika Finlandia menjuarai kejuaraan dunia hoki es. Kuosmanen mengaku tidak menyukai hoki, tetapi senang melihat kegembiraan kolektif di jalanan. Namun kegembiraan itu ternyata dibarengi kekerasan terhadap teman-temannya yang dianggap berbeda.
"Kesimpulan saya adalah rasa takut. Takut terhadap perbedaan," kata Kuosmanen. Menurutnya, media sosial dan algoritma memang mendorong kemarahan, tetapi akar masalahnya tetap rasa takut yang kemudian direspons dengan amarah.
Respons Distributor dan Jadwal Tayang
Rise and Shine masuk sebagai penjualan dunia untuk film ini. Anja Dziersk dari Rise and Shine menyebut Fruitcakes lebih dari sekadar perjalanan nostalgia budaya drag era 1980-an.
"Ini mahakarya humor Finlandia yang terhubung dengan pesan sangat relevan ketika kehidupan queer terus ditantang dan diancam setiap hari," ujarnya.
Kuosmanen menulis naskah film ini dan mengeditnya bersama Jussi Sandhu, dengan sinematografi oleh Mikko Kelloniemi. Tayang perdana dunia dijadwalkan pada Sabtu di Tallinn, Estonia.
Fruitcakes: Dawn of Drag menempatkan sejarah drag Finlandia dalam percakapan yang lebih luas tentang hak queer, menjadikannya salah satu dokumenter yang layak dipantau di sirkuit festival internasional tahun ini.