Pencarian

Samuel Wattimena Minta Pemprov Jawa Tengah Perkuat Akar Budaya di Desa Wisata

Jumat, 01 Mei 2026 • 03:01:16 WIB
Samuel Wattimena Minta Pemprov Jawa Tengah Perkuat Akar Budaya di Desa Wisata
Samuel Wattimena menekankan pentingnya penguatan akar budaya dalam pengembangan desa wisata di Jawa Tengah.

SEMARANG - Pengembangan program seribu desa wisata di Provinsi Jawa Tengah mendapatkan sorotan tajam terkait urgensi menjaga identitas lokal di tengah masifnya target pembangunan fisik. Tokoh ekonomi kreatif nasional, Samuel Wattimena, memberikan catatan kritis agar pemerintah daerah tidak hanya terjebak pada pencapaian angka-angka statistik, melainkan fokus pada esensi nilai budaya yang dimiliki setiap desa.

Samuel menekankan bahwa pertumbuhan desa wisata yang sangat cepat di Jawa Tengah harus dibarengi dengan pemetaan potensi yang mendalam. Menurutnya, keberhasilan sebuah desa wisata tidak diukur dari seberapa banyak kunjungan wisatawan dalam jangka pendek, tetapi dari sejauh mana desa tersebut mampu mempertahankan jati dirinya sebagai daya tarik utama yang unik dan tidak dimiliki daerah lain.

Menghindari Penyeragaman Desa Wisata

Dalam pandangannya, Samuel Wattimena melihat adanya risiko penyeragaman atau "copy-paste" konsep antara satu desa dengan desa lainnya. Ia mengingatkan bahwa Jawa Tengah memiliki kekayaan tradisi, kuliner, dan kerajinan yang sangat beragam di setiap kabupaten/kota. Jika setiap desa hanya meniru konsep yang sedang tren tanpa menggali potensi lokal, maka desa tersebut akan kehilangan daya saing dalam jangka panjang.

"Jangan sampai kita kehilangan akar. Desa wisata harus tumbuh dari kekuatan lokalnya sendiri, bukan sekadar mengikuti tren yang ada di tempat lain," kata Samuel Wattimena saat memberikan arahan terkait pengembangan potensi daerah. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama pariwisata berbasis komunitas adalah cerita (storytelling) dan pengalaman otentik yang ditawarkan kepada pengunjung.

Samuel mendorong para pengelola desa wisata di Jawa Tengah untuk kembali melihat sejarah, tradisi lisan, dan produk kerajinan khas daerah masing-masing. Menurutnya, wisatawan saat ini lebih mencari pengalaman hidup (experience) bersama masyarakat lokal daripada sekadar fasilitas modern yang bisa ditemukan di kawasan perkotaan. Hal inilah yang menjadi kunci agar desa wisata tidak hanya menjadi "proyek" sesaat.

Pemberdayaan Masyarakat dan Kualitas SDM

Selain masalah identitas, Samuel juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tingkat desa. Pembangunan infrastruktur fisik di desa wisata harus diimbangi dengan kesiapan warga dalam mengelola dan menyambut wisatawan. Tanpa keterlibatan aktif dan pemahaman masyarakat tentang nilai budaya mereka sendiri, target seribu desa wisata hanya akan menjadi angka mati tanpa dampak kesejahteraan yang nyata.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diminta untuk terus memberikan pendampingan yang intensif, terutama dalam hal pengemasan produk kreatif dan pemasaran digital. Samuel berpendapat bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri kreatif sangat diperlukan untuk mengkurasi potensi desa agar layak jual di pasar internasional tanpa merusak tatanan sosial dan lingkungan setempat.

Ia menambahkan bahwa aspek perlindungan terhadap perempuan dan anak di lingkungan desa wisata juga menjadi poin krusial. Desa wisata yang maju harus mampu menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, sehingga memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat desa, termasuk kelompok rentan.

Komitmen Keberlanjutan Pariwisata Jawa Tengah

Menanggapi tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diharapkan dapat menyusun indikator keberhasilan desa wisata yang lebih komprehensif. Indikator tersebut tidak boleh hanya terpaku pada jumlah kunjungan, tetapi juga mencakup kelestarian budaya, tingkat kebahagiaan warga lokal, dan pelestarian lingkungan hidup di sekitar lokasi wisata.

Langkah ini penting untuk memastikan bahwa program desa wisata di Jawa Tengah benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang tangguh. Dengan menjaga akar budaya, desa-desa di Jawa Tengah diharapkan mampu berdiri tegak di tengah persaingan pariwisata global sekaligus menjadi benteng pelestarian warisan leluhur bagi generasi mendatang.

Bagikan
Sumber: jateng.herald.id

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks