Pencarian

Puluhan Murid SD dan SMP di Wonogiri Raih Nilai 100 Matematika dan Bahasa Indonesia, Disdikbud Sebut Pemerataan Pendidikan Mulai Terlihat

Selasa, 02 Juni 2026 • 17:10:01 WIB
Puluhan Murid SD dan SMP di Wonogiri Raih Nilai 100 Matematika dan Bahasa Indonesia, Disdikbud Sebut Pemerataan Pendidikan Mulai Terlihat
Puluhan murid SD dan SMP di Wonogiri berhasil meraih nilai sempurna Matematika dan Bahasa Indonesia.

WONOGIRI — Di sebuah ruang kelas sederhana di lereng perbukitan, angka 100 yang tercetak di lembar hasil ujian murid SD Negeri 3 Gunturharjo menjadi pemandangan yang tak biasa. Bukan hanya satu, Disdikbud Wonogiri mencatat ada puluhan siswa dari berbagai SD dan SMP di wilayah terpencil yang berhasil menyentuh nilai sempurna untuk dua mata pelajaran inti: Matematika dan Bahasa Indonesia.

Kepala Disdikbud Wonogiri, melalui data yang dirilis hingga Sabtu (30/5/2026), menyebut bahwa capaian ini tersebar di beberapa kecamatan yang selama ini masuk kategori daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) di kabupaten tersebut. “Ini bukan sekadar angka. Ini bukti bahwa akses dan kualitas pendidikan mulai merata hingga ke desa-desa,” ujar pejabat dinas dalam keterangan resmi.

Dari Pelosok ke Papan Atas: Skor Sempurna Bukan Lagi Mitos

Selama bertahun-tahun, sekolah-sekolah di pelosok Wonogiri—seperti di Kecamatan Giriwoyo dan Pracimantoro—kerap dipandang sebelah mata. Keterbatasan guru, minimnya akses buku, hingga sinyal internet yang tak kunjung stabil menjadi cerita lama. Namun, catatan Disdikbud kali ini menunjukkan pergeseran.

Nilai 100 untuk Matematika dan Bahasa Indonesia diraih oleh puluhan murid dari setidaknya tujuh sekolah dasar dan tiga sekolah menengah pertama. Salah satu guru di SDN 2 Sendang, Kecamatan Wonogiri, mengaku terkejut saat melihat hasil ujian muridnya. “Biasanya anak-anak di sini kesulitan di soal cerita Matematika. Sekarang mereka bisa menjawab semua dengan benar,” katanya.

Apa yang Berubah di Ruang Kelas?

Disdikbud Wonogiri menyebut beberapa faktor pendorong. Pelatihan guru secara berkala, distribusi modul ajar yang lebih cepat, serta program bimbingan belajar gratis di akhir pekan menjadi kunci. “Kami juga mendorong guru untuk tidak lagi mengajar dengan metode hafalan, tapi dengan pendekatan kontekstual,” tambah pejabat dinas.

Di Kecamatan Pracimantoro, seorang kepala sekolah menceritakan bagaimana murid-muridnya mulai percaya diri mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten. “Dulu kami hanya jadi penonton. Sekarang, anak-anak kami bisa bersaing,” ujarnya.

Pemerataan yang Mulai Terasa, Tapi Perjalanan Masih Panjang

Meski angka 100 menjadi kabar gembira, Disdikbud tak menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Masih ada puluhan sekolah di Wonogiri yang kekurangan guru tetap, terutama untuk mata pelajaran IPA dan Bahasa Inggris. “Ini baru awal. Kami targetkan tahun depan semua sekolah di pelosok punya akses internet stabil,” tegas pejabat dinas.

Bagi warga di lereng Gunung Lawu, capaian ini lebih dari sekadar statistik. Seorang ibu yang anaknya duduk di bangku kelas 6 SD mengaku sempat ragu menyekolahkan anaknya di kampung. “Saya pikir pindah ke kota lebih baik. Tapi sekarang lihat nilai anak saya, saya lega,” katanya sambil tersenyum.

Prestasi ini menjadi pengingat bahwa mutu pendidikan tak selalu ditentukan oleh gedung megah atau laboratorium canggih. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah guru yang hadir, metode yang tepat, dan keyakinan bahwa anak-anak di pelosok juga bisa bersinar.

Bagikan
Sumber: radarsolo.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks