SURAKARTA — Rangkaian Kirab Pusaka dalam rangka Malam 1 Suro di Keraton Surakarta nyaris terusik oleh ketegangan internal. Dua kubu, yakni pendukung Mangkubumi dan Purboyo, terlibat cekcok di area kompleks keraton. Sumber di lingkungan keraton menyebutkan bahwa perbedaan interpretasi atas otoritas pengelolaan Sasana Parasdya menjadi pemicu utama insiden tersebut.
Pemicu Ketegangan: Otoritas Pengelolaan Sasana Parasdya
Sasana Parasdya, yang selama ini dikenal sebagai lokasi sentral berbagai upacara adat, menjadi rebutan simbolis antara kedua kelompok. Kubu Mangkubumi mengklaim memiliki hak tradisional untuk memimpin dan mengatur jalannya prosesi di bangunan tersebut, sementara kubu Purboyo menolak klaim itu. Cekcok mulut sempat terjadi di hadapan para abdi dalem dan tamu undangan yang sudah bersiap menyaksikan kirab.
Mediasi Cepat Mencegah Eskalasi Konflik
Mengetahui situasi memanas, sejumlah sesepuh keraton dan perwakilan dari pihak keamanan setempat segera turun tangan. Mereka memisahkan kedua kelompok dan menggelar musyawarah singkat di pendapa samping. “Kami hanya ingin memastikan bahwa tradisi leluhur tetap berjalan khidmat. Perbedaan pendapat soal teknis tidak boleh mengganggu sakralitas Malam 1 Suro,” ujar salah satu abdi dalem yang enggan disebut namanya.
Prosesi Kirab Tetap Lancar hingga Selesai
Setelah kesepakatan dicapai, rombongan kirab akhirnya berangkat dari halaman utama keraton sekitar pukul 21.00 WIB. Ratusan warga dan wisatawan yang telah menunggu di sepanjang rute menyambut prosesi dengan antusias. Pusaka-pusaka keraton dikirab dengan pengawalan ketat, tanpa ada lagi insiden berarti hingga acara usai pada dini hari.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan tradisi, dinamika internal di lingkungan keraton tetap ada. Namun, komitmen untuk menjaga marwah budaya dan persatuan terbukti lebih kuat dibandingkan perbedaan sesaat. Pihak keraton dipastikan akan menggelar pertemuan internal untuk membahas tata kelola Sasana Parasdya secara lebih jelas ke depannya.