Pencarian

Wakil Ketua DPRD Jateng Sebut Penutupan 122 Prodi Jadi Alarm Ketidaksinkronan Kampus dengan Pasar Kerja

Selasa, 30 Juni 2026 • 13:18:01 WIB
Wakil Ketua DPRD Jateng Sebut Penutupan 122 Prodi Jadi Alarm Ketidaksinkronan Kampus dengan Pasar Kerja
Wakil Ketua DPRD Jateng menilai penutupan 122 prodi sebagai sinyal ketidaksinkronan kampus dengan pasar kerja.

SEMARANG — Pemerintah melalui Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) mencatat sebanyak 122 program studi (prodi) resmi ditutup sepanjang tahun 2026. Keputusan penutupan itu diajukan langsung oleh masing-masing perguruan tinggi negeri (PTN) maupun swasta (PTS) penyelenggara prodi tersebut.

Penurunan Minat atau Lemahnya Perencanaan Kerja?

Setya Arinugroho yang akrab disapa Ari menilai, penutupan massal ini bisa dimaknai dari dua sisi. Di satu sisi, ini kabar baik jika pergeseran terjadi karena kampus mulai beradaptasi dengan kebutuhan industri. Namun di sisi lain, ia menyebut ini pertanyaan besar bagi pemerintah sebagai penyedia lapangan kerja.

“Penutupan prodi ini triggernya bisa jadi karena berbagai faktor, tapi akar masalahnya adalah kita punya PR besar di hilir yakni lapangan kerja dan perencanaan karier lulusan,” ujar Ari saat diwawancarai, Rabu (13/06/2026).

Bukan Sekadar Menutup, Kampus Harus Bertransformasi

Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah itu mencontohkan transformasi prodi Matematika murni yang kini dikembangkan menjadi prodi Aktuaria di sejumlah kampus. Menurutnya, langkah adaptasi semacam ini menunjukkan bahwa kampus tidak sekadar menutup prodi, melainkan melakukan penyesuaian zaman.

“Penutupan prodi tentu mempunyai risiko bagi ekosistem kampus. Tetapi hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana kampus melakukan adaptasi dengan mengembangkan prodi-prodi baru yang akan dibuka ke depan,” lanjutnya.

Pemprov Jateng Didorong Petakan Kebutuhan Industri

Ari mendesak pemerintah daerah segera melakukan pemetaan antara kebutuhan riil industri dengan profil lulusan perguruan tinggi. Langkah ini dinilai krusial agar para sarjana baru bisa terserap maksimal ke dunia kerja dan menekan angka pengangguran terdidik yang terus membengkak.

Menurutnya, menutup prodi tanpa membenahi sektor lapangan kerja justru berisiko menurunkan angka pemerataan pendidikan dan berdampak negatif pada nasib tenaga pendidik.

“Bukan hanya prodi yang ditutup, namun pemerintah juga harus menyiapkan strategi untuk bisa memetakan para lulusan agar bisa ditempatkan sesuai dengan profesi mereka. Dengan begitu, penutupan prodi tidak dipandang sebagai satu-satunya solusi,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: jatengpos.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks