KLATEN — Keberadaan ribuan kelelawar di kompleks Makam Ronggowarsito telah menjadi pemandangan yang tak terpisahkan dari situs budaya tersebut. Fenomena yang berlangsung selama lebih dari lima dekade ini justru memberikan berkah tersendiri bagi warga sekitar.
Kotoran kelelawar yang menumpuk di area makam rutin dikumpulkan oleh masyarakat setempat. Limbah organik ini kemudian diolah menjadi pupuk alami yang dinilai memiliki kualitas tinggi untuk menyuburkan tanaman.
Berkah dari Penghuni Makam
Bagi warga di sekitar makam yang terletak di Kecamatan Ceper, Klaten, kehadiran ribuan kelelawar bukanlah gangguan. Sebaliknya, mereka memanfaatkan kotoran hewan tersebut sebagai sumber pupuk organik yang ekonomis.
"Kotoran kelelawar ini sudah lama dimanfaatkan warga untuk pupuk. Hasilnya bagus untuk tanaman, apalagi tidak perlu beli pupuk kimia," ujar salah seorang pengelola makam.
Destinasi Ziarah yang Ramai Dikunjungi
Selain menjadi sumber pupuk alami, Makam Ronggowarsito tetap ramai dikunjungi para peziarah. Mereka datang untuk berziarah ke makam sang pujangga yang karya-karyanya melegenda dalam khazanah sastra Jawa.
Pengunjung yang datang biasanya takjub melihat ribuan kelelawar yang bergelantungan di langit-langit bangunan makam. Suasana mistis dan historis berpadu dengan fenomena alam yang langka ini menjadi daya tarik tersendiri.
Warisan Budaya dan Ekosistem yang Berdampingan
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah situs warisan budaya bisa berdampingan secara harmonis dengan ekosistem alam. Selama puluhan tahun, koloni kelelawar tersebut tidak pernah terusik dan justru menjadi bagian dari identitas makam.
Keberadaan mereka juga membantu menjaga keseimbangan lingkungan sekitar, terutama dalam mengendalikan populasi serangga di malam hari. Warga pun diuntungkan dengan pasokan pupuk organik yang melimpah secara alami.
Hingga kini, koloni kelelawar di Makam Ronggowarsito masih menjadi pemandangan yang langka dan unik di Jawa Tengah. Perpaduan antara nilai sejarah, spiritualitas, dan fenomena alam ini terus menarik perhatian, baik dari kalangan peziarah maupun peneliti.