JAWA TENGAH — Kapal Pertamina Pride akhirnya bisa bernapas lega. Setelah terkatung-katung di Teluk Arab sejak awal tahun, kapal pengangkut minyak mentah milik PT Pertamina International Shipping (PIS) itu tercatat telah melintasi Selat Hormuz dan kini merapat di perairan Teluk Oman.
Data dari Marine Traffic dan Vesselfinder menunjukkan kapal sudah meninggalkan wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Pertamina Pride dilaporkan bertolak dari Pelabuhan Jebel Ali di UEA dengan tujuan Kilang Cilacap, Jawa Tengah.
Kecepatan Merambat, Target Tiba Pertengahan 2026
Saat ini, kapal bergerak dengan kecepatan 3,3 knot—terbilang lambat untuk ukuran VLCC. Meski begitu, pergerakan ini sudah menjadi kabar baik setelah kapal tersebut nyaris lumpuh selama lebih dari tiga bulan akibat eskalasi perang antara Iran dan Amerika Serikat yang menutup akses Selat Hormuz.
Berdasarkan perkiraan sistem pelacakan, Pertamina Pride dijadwalkan tiba di Kilang Cilacap pada 21 Juli 2026. Kapal ini mengangkut pasokan minyak mentah impor yang krusial untuk menjaga operasional kilang Pertamina di Indonesia.
Dua Kapal Akhirnya Lolos dari Blokade
Sebelum Pertamina Pride, kapal tanker Pertamina Gamsunoro lebih dulu berhasil melewati Selat Hormuz beberapa pekan lalu. Kedua kapal sempat menjadi perhatian karena terjebak di zona konflik sejak awal tahun, ketika ketegangan militer di kawasan Teluk mencapai puncaknya.
Selat Hormuz merupakan jalur laut paling vital bagi perdagangan minyak dunia. Hampir sepertiga pasokan minyak global melewati selat ini. Ketika akses ditutup, kapal-kapal dari berbagai negara, termasuk dua milik Pertamina, harus menunggu hingga situasi keamanan membaik.
Kabar lolosnya Pertamina Pride ini menjadi lega bagi Pertamina dan juga pasokan energi nasional. Setiap hari, kilang Cilacap mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar minyak yang dipasok ke berbagai daerah di Indonesia. Keterlambatan pengiriman akibat kapal tertahan berpotensi mengganggu stok BBM dalam negeri.
Dengan dua kapal tanker utama yang kini sudah bebas melintas, Pertumina dipastikan bisa kembali memulihkan jadwal impor minyak mentahnya. Langkah selanjutnya, kapal akan melanjutkan perjalanan menuju perairan Indonesia dengan estimasi waktu tempuh sekitar tiga bulan ke depan.