JAWA TENGAH — Kyrgios pernah berkata tidak akan bermain tenis saat menginjak usia 30-an. Faktanya, ia justru menghadapi skenario terburuk di usia 31 tahun: hasil tes doping positif yang berpotensi menghentikan kariernya secara permanen.
Dalam unggahan di media sosial, petenis peringkat 919 dunia itu menyebut kejadian ini sebagai "kesalahan besar" yang sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Namun ia menegaskan bahwa rangkaian cedera lutut dan pergelangan tangan yang dideritanya sejak 2023 telah mengambil korban mental yang luar biasa.
Sanksi Menanti: Tiga Bulan atau Empat Tahun?
Kyrgios tidak akan bisa tampil di turnamen mana pun sampai kasusnya selesai diproses. Aturan antidoping mengharuskannya menjalani skorsing provisional yang bersifat wajib.
Batas maksimal hukumannya mencapai empat tahun. Tapi ada celah: jika Kyrgios bisa membuktikan kokain dikonsumsi di luar masa kompetisi, suspensinya dipangkas menjadi maksimal tiga bulan.
Sejak awal 2023, ia hanya tampil di delapan turnamen dan memenangi dua pertandingan. "Datang ke titik di mana aku hampir di ujung karier ternyata lebih sulit dari yang pernah kubayangkan," tulisnya.
Dari Kemenangan atas Nadal ke Ambang Kehancuran
Karier Kyrgios adalah paradoks. Di satu sisi, ia pernah mengejutkan dunia saat mengalahkan Rafael Nadal di debut Centre Court Wimbledon 2014 dalam usia 19 tahun. Enam tahun kemudian, ia menjadi runner-up Wimbledon setelah kalah dari Novak Djokovic.
Di sisi lain, catatan disiplinnya buruk. Tahun 2015 ia diskors 28 hari karena komentar tidak senonoh soal pacar Stan Wawrinka. Setahun berikutnya, hukuman delapan pekan menantinya usai aksi "kurang usaha" di Shanghai Masters.
Puncaknya terjadi pada 2019. Kyrgios didiskualifikasi dari Italian Open setelah melempar kursi ke lapangan, lalu didenda USD 113.000 karena melontarkan makian ke wasit Fergus Murphy di Cincinnati. ATP kemudian menjatuhkan skorsing 16 pekan dengan masa percobaan.
Masa Kelam: Alkohol, Narkoba, dan Luka Masa Kecil
Dalam dokumenter Netflix Break Point, Kyrgios menyebut 2019 sebagai titik terendah kariernya. "Aku minum, menyalahgunakan obat-obatan. Aku kehilangan hubungan dengan keluargaku, menjauhkan semua teman dekatku," katanya.
Ia juga mengaku sempat dirawat di rumah sakit jiwa London untuk "mencari tahu masalahku". Kyrgios pernah memakai lengan kompresi untuk menutupi bekas luka sayatan di lengannya, dan mengatakan bullying di masa kecil karena bertubuh pendek, gemuk, dan berkulit cokelat meninggalkan trauma mendalam.
Kebiasaan buruknya bukan rahasia. Kepada Louis Theroux pada 2024, ia mengaku kadang minum "20 sampai 30 gelas" sehari sebelum bertanding. Ia juga sering bermain basket berlebihan — termasuk satu jam sebelum mengalahkan David Ferrer di semifinal Cincinnati Masters 2017.
Masa Depan: 28 Hari untuk "Kembali Lebih Baik"
Kyrgios berencana menjauh dari sorotan publik selama 28 hari ke depan untuk "berbenah dan kembali lebih baik". Namun proses hukum kasus dopingnya bisa berlangsung berbulan-bulan.
Ia dikenal kritis terhadap sistem antidoping tenis. Kyrgios menyebut sistem itu "mengerikan" dan berulang kali menilai Jannik Sinner serta Iga Swiatek mendapat hukuman terlalu ringan dalam kasus doping mereka masing-masing.
"Hari yang menyedihkan untuk tenis. Keadilan dalam tenis sedang dipertanyakan," tulisnya dalam unggahan sebelumnya, merujuk pada inkonsistensi penanganan kasus serupa.