Pencarian

Robot Humanoid di Pabrik BMW Lebih Lambat dari Manusia, Efisiensi Masih Jadi PR

Rabu, 26 Agustus 2026 • 08:21:31 WIB
Robot Humanoid di Pabrik BMW Lebih Lambat dari Manusia, Efisiensi Masih Jadi PR
Robot humanoid Figure AI tengah diuji coba di pabrik BMW Spartanburg untuk tugas logistik.

JAWA TENGAH — Pabrikan otomotif global berlomba mengintegrasikan robot humanoid ke lini produksi, namun hasil uji coba tahap awal menunjukkan teknologi ini belum siap menggantikan manusia. Wakil Presiden Logistik BMW, Ulrich Wieland, secara terbuka mengakui bahwa robot yang diuji di pabrik Spartanburg masih lebih lambat dibandingkan pekerja manusia dalam menyelesaikan tugas memindahkan komponen dari kontainer ke troli.

Kemampuan Robot Figure AI di Pabrik BMW

Robot besutan Figure AI yang diuji BMW memang sudah menunjukkan kapabilitas teknis yang impresif. Robot ini mampu berjalan secara otonom, mengambil komponen dengan presisi, hingga menarik troli berat di area logistik pabrik. Namun dalam praktiknya, kecepatan eksekusi tugas masih di bawah standar produktivitas manusia.

Wieland menambahkan bahwa meski performa saat ini belum memuaskan, kurva perkembangan teknologi robot berlangsung sangat cepat. Ini menjadi sinyal bahwa celah kecepatan antara robot dan manusia diprediksi akan semakin menyempit dalam beberapa tahun ke depan.

Persaingan Robot Humanoid: Mercedes-Benz, Hyundai, dan Tesla

BMW bukan satu-satunya pemain yang serius menggarap teknologi ini. Mercedes-Benz tengah menguji robot humanoid buatan Apptronik untuk tugas menyortir dan menangani komponen. Hyundai, melalui anak perusahaannya Boston Dynamics, berencana memanfaatkan robot untuk menata komponen yang akan digunakan pekerja manusia di pabrik.

Tesla bahkan memiliki ambisi lebih besar dengan robot Optimus. Tidak hanya ditargetkan bekerja di pabrik mobil, Optimus juga diproyeksikan menjadi lini bisnis baru yang menguntungkan bagi perusahaan Elon Musk tersebut.

Perdebatan Biaya dan Efektivitas Robot di Pabrik

Di balik euforia teknologi, sejumlah ahli mempertanyakan rasionalitas penggunaan robot humanoid. Pekerjaan sederhana di pabrik seperti memindahkan atau menyortir komponen sebenarnya bisa dilakukan robot konvensional dengan biaya yang jauh lebih murah. Bentuk humanoid dengan dua kaki dinilai tidak relevan untuk lingkungan pabrik yang didominasi permukaan datar.

General Motors (GM) mengambil pendekatan berbeda dengan mengembangkan robot kolaboratif yang hanya memiliki tangan dan lengan, tanpa kaki. Keputusan ini didasari pertimbangan bahwa kemampuan berjalan tidak dibutuhkan di dalam pabrik, sehingga desain robot bisa dibuat lebih sederhana dan hemat biaya.

Dampak terhadap Tenaga Kerja Manusia

Kehadiran robot di pabrik otomotif menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja. Produsen berargumen bahwa otomatisasi justru bisa mengisi pekerjaan yang sulit mendapatkan tenaga manusia, sekaligus membuka posisi baru untuk mengoperasikan dan merawat mesin. Namun di sisi lain, pekerja khawatir otomatisasi akan mengurangi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.

Kesimpulan: Revolusi Robot Humanoid Masih Jauh

Untuk saat ini, revolusi robot humanoid di pabrik otomotif tampaknya masih membutuhkan waktu panjang. Dalam urusan kecepatan kerja, manusia masih unggul. Keputusan adopsi teknologi ini pada akhirnya akan bergantung pada keseimbangan antara biaya investasi, peningkatan efisiensi, dan dampak sosial terhadap tenaga kerja. Produsen otomotif perlu menimbang matang apakah investasi besar untuk robot humanoid sepadan dengan peningkatan produktivitas yang belum terbukti signifikan.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks