JAWA TENGAH — Indonesia selama ini identik dengan hilirisasi tambang, mulai dari nikel hingga batu bara. Padahal, potensi besar justru menganga di sektor non-tambang, salah satunya minyak nilam yang menjadi bahan baku industri kosmetik, parfum, hingga farmasi.
Data terbaru menunjukkan, nilai ekspor minyak atsiri Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$348,7 juta atau nyaris Rp6 triliun. Dari jumlah itu, hampir separuhnya disumbang minyak nilam dengan nilai US$173,4 juta. Angka ini tumbuh signifikan dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi bukti permintaan global terhadap bahan alami Indonesia terus menguat.
Petani Sulawesi Jadi Pemasok Utama
Budidaya nilam tersebar di empat pulau utama: Sumatra, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Namun, berdasarkan Outlook Nilam 2024, Sulawesi Tenggara menjadi produsen tertinggi, disusul Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Paragon Corp, perusahaan di balik merek Wardah dan Emina, memanfaatkan potensi ini lewat lini produk Earth Love Life. Director of Corporate Affairs PT Paragon Technology and Innovation, Astri Wahyuni, mengatakan perusahaan sengaja menggunakan bahan alami dari berbagai daerah untuk memberikan pengalaman berbeda kepada konsumen.
"Jadi kami pakai bunga dari Bali, misalnya frangipani (kamboja), kemudian patchouli dari Sulawesi," kata Astri dalam seminar nasional The New Economy of Nature, Kamis (20/8).
Untuk memasok kebutuhan nilam, Paragon menggandeng sekitar 700 petani lokal binaan. Salah satu varian produk, Forest Therapy, bahkan telah mengantongi sertifikat For Life dari Ecocert, lembaga sertifikasi internasional yang kredibel di bidang produk ramah lingkungan.
Model Regeneratif: Panen Tanpa Merusak Tanah
Yang menarik dari hilirisasi nilam ini adalah metode budidayanya. Paragon mengklaim tanaman nilam yang digunakan telah menerapkan praktik regeneratif, bukan sekadar pertanian konvensional.
"Budidaya (tanaman nilam) sudah regeneratif," ujar Astri.
Praktiknya nyata: sisa bahan baku dari proses penyulingan diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke lahan sebagai pupuk. Setiap empat kali panen, tanah diberi waktu beristirahat dengan ditanami tumbuhan lain untuk menjaga unsur hara. Langkah ini penting karena praktik monokultur yang terus-menerus rentan menyebabkan degradasi tanah.
"Kami berusaha melindungi keanekaragaman hayati, tentunya dengan cara-cara budidaya yang berkelanjutan," tegas Astri.
Pembiayaan Ekstraktif Masih Mendominasi
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai model bisnis seperti yang dilakukan Paragon ini patut diduplikasi. Menurutnya, hilirisasi tidak harus selalu bertumpu pada aktivitas pertambangan yang punya biaya eksternalitas besar dan kerap luput diperhitungkan.
"Kalau ada hilirisasi tadi seperti Paragon, itu bagus," ucap Bhima.
Kendati demikian, pengembangan ekonomi restoratif masih menghadapi tembok besar: pembiayaan. Bhima menyebut aliran dana saat ini masih deras ke sektor ekstraktif, sementara pendanaan untuk bioekonomi dan biodiversitas masih kecil.
CELIOS menghitung ekonomi restoratif berpotensi menghasilkan nilai ekonomi lebih besar dibandingkan ekonomi ekstraktif dalam 25 tahun ke depan. Sumber pendanaannya pun beragam, mulai dari dana pungutan ekspor kelapa sawit, pajak karbon, pajak produksi batu bara, hingga dana pungutan tambang.
"Sumber pendanaan yang sangat beragam ini, memang kuncinya satu, kita butuh political will untuk melihat sektor terkait sosio-bioekonomi ini adalah sebuah jawaban. Bukan alternatif, tapi satu-satunya jalan yang harus kita lakukan bersama," pungkas Bhima.
Dengan tren ekspor yang tumbuh dua digit dan model budidaya yang ramah lingkungan, minyak nilam bisa menjadi blueprint hilirisasi Indonesia ke depan: bernilai tambah tinggi tanpa mengorbankan lingkungan.