KUDUS — Pemerintah Desa (Pemdes) Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menggandeng pendamping dalam pelaksanaan kelas ibu hamil sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Pendamping yang dilibatkan adalah suami, atau orang tua dan anggota keluarga lain jika suami berhalangan hadir.
Kepala Desa Tumpangkrasak, Sarjoko Saputro, menjelaskan keterlibatan pendamping menjadi penting karena keberhasilan menjaga kesehatan ibu dan janin tidak hanya bergantung pada ibu hamil. Dukungan keluarga diperlukan mulai dari pemenuhan gizi, pemeriksaan kehamilan, hingga penerapan pola hidup sehat.
“Pendamping ini kami ikutsertakan untuk mendapatkan edukasi dan berperan aktif menjaga ibu hamil mulai dari awal kehamilan sampai akhir,” terangnya baru-baru ini.
Pendamping Berperan Aktif Jaga Kesehatan Ibu dan Janin
Sarjoko menuturkan, edukasi yang diberikan kepada pendamping bertujuan menciptakan lingkungan suportif bagi ibu hamil. Dengan begitu, pesan tentang asupan gizi dan perawatan kehamilan tidak berhenti di ibu, melainkan dipahami pula oleh orang-orang di sekitarnya.
“Pendamping itu sangat berperan penting. Karena itu, kami tidak hanya memberikan edukasi kepada ibu hamil, tetapi pendampingnya juga kami libatkan,” katanya.
Program Kelas Gizi Berjalan Sejak 2019
Kelas ibu hamil hanyalah satu dari rangkaian program pencegahan stunting di desa tersebut. Pemdes Tumpangkrasak juga menjalankan pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal, kelas balita, serta kelas gizi yang telah beroperasi sejak 2019.
Kelas gizi menyasar balita dan ibu hamil berisiko secara bergantian. Anak-anak penerima intervensi tidak hanya diberi edukasi, tetapi juga menjalani screening dan pemantauan berkelanjutan sejak awal hingga akhir program berdasarkan indikator yang ditetapkan.
“Kami juga melakukan screening dan pemantauan terhadap anak yang menerima manfaat. Jadi mulai dari awal sampai akhir tetap dilakukan screening dan pemantauan berdasarkan beberapa indikator,” imbuh Sarjoko.
Kolaborasi dengan Puskesmas dan Posyandu untuk Remaja
Pelaksanaan program melibatkan kelompok masyarakat, kader, serta tenaga kesehatan dari puskesmas. Kelas balita, misalnya, dikerjakan melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk menangani balita berisiko stunting.
Sementara itu, edukasi pencegahan stunting pada kelompok remaja dilakukan lewat kegiatan posyandu. Sarjoko menyebut pendekatan ini dipilih karena remaja merupakan mata rantai penting dalam pencegahan stunting sejak dini.
“Untuk remaja, kami masuk melalui posyandu. Jadi tidak langsung membuat program sendiri, tetapi melalui edukasi di posyandu dan menyasar kondisi remaja,” ujarnya.
Efisiensi Anggaran dan Program MBG Pengaruhi Skala Kegiatan
Pada tahun ini, skala program mengalami penyesuaian. Sarjoko mengatakan efisiensi anggaran dana desa serta hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kegiatan dari posyandu serta puskesmas memengaruhi program yang bisa dijalankan.
“Untuk tahun ini program kami tinggal kelas ibu hamil berisiko dan pemberian PMT. Ada pertimbangan efisiensi anggaran dana desa, kemudian juga sudah ada program MBG serta kegiatan dari posyandu dan puskesmas,” paparnya.
Adapun PMT berbahan lokal tetap menjadi prioritas, dengan pelaksanaan yang disesuaikan pada kondisi anggaran desa dan keberadaan program pemerintah lainnya.