GROBOGAN — Kondisi itu disampaikan Wahyu saat ditemui di sela kegiatan Dokter Spesialis Keliling (Spelling) di Balai Desa Mojorebo. Ia mengaku sempat mampir ke UGD sebelum menghadiri kegiatan tersebut dan mendapati ruang perawatan sudah terisi.
"Kebetulan sebelum ke sini tadi saya mampir di UGD itu penuh. Rawat inap juga sama, penuh," kata Wahyu.
Diare hingga Demam Dominasi Pasien Masuk UGD
Wahyu menuturkan, ia sempat menanyakan penyebab kepada dokter jaga. Sebagian besar pasien yang masuk UGD mengeluh diare, muntah-muntah, dan demam.
Hasil pemeriksaan menunjukkan keluhan itu dipengaruhi cuaca panas ekstrem yang terjadi belakangan ini. Lonjakan tidak hanya terjadi di UGD, tetapi menyebar ke sejumlah ruang perawatan lain.
"Kemarin saya itu juga mengumpulkan data dari masing-masing ruangan, ternyata pasien menyebar. Dari dokter kandungan, itu juga penuh kamarnya. Ruang anak, juga penuh. Lalu, poli bedah banyak juga," bebernya.
Direktur Minta Pasien Tidak Ditolak Sebelum Diperiksa
Wahyu mengaku selalu menekankan kepada perawat dan dokter jaga UGD agar tidak menolak pasien yang datang. Pasien harus ditangani lebih dulu sebelum dirujuk.
"Ditangani dulu, diobati, diobservasi, kemudian periksa dokter spesialis. Kalau dokter spesialis ternyata enggak mampu, baru dievaluasi serta dirujuk ke faskes yang lebih memadai. Jangan sampai belum diperiksa apa-apa sudah bilang enggak mampu," jelasnya.
98 Ruang Rawat Inap, Belum Ada Kamar VIP
Saat ini RSUD Ki Ageng Selo Wirosari memiliki 98 ruang rawat inap yang terdiri dari kelas I, kelas II, dan kelas III. Jumlah karyawan rumah sakit mencapai 303 orang.
Wahyu menyebut pihaknya belum memiliki kamar inap VIP. Pada 2025, rumah sakit baru bisa menambah 20 kamar dari sebelumnya 78 ruangan.
Tren Pasien Naik Sejak Awal September, Puncak Desember-Januari
Peningkatan jumlah pasien di RSUD Ki Ageng Selo Wirosari mulai berlangsung sejak awal September. Dua bulan sebelumnya, Juli hingga Agustus, jumlah pasien justru menurun.
"Nanti siklus tren penyakit naik Oktober, November, Desember Januari, lalu Februari baru akan landai lagi. Puncak-puncaknya itu Desember hingga Januari," jelasnya.
Wahyu mengimbau masyarakat menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat. Ia mengingatkan agar warga tidak banyak mengonsumsi minuman dingin seperti es dan sejenisnya selama kemarau panjang dengan cuaca kering dan panas ekstrem.