KLATEN — Konferensi internasional sejarah sepeda di Klaten tidak sekadar menjadi ajang diskusi akademik. Penyelenggara menargetkan forum itu mampu mengubah stigma lama yang melekat di tengah masyarakat Indonesia, di mana sepeda kerap kali hanya dipandang sebagai alat olahraga atau rekreasi mingguan.
Melalui forum tersebut, para pegiat ingin memperkenalkan sepeda sebagai moda transportasi harian yang relevan. Harapannya, persepsi publik bergeser dari sekadar hobi menjadi solusi mobilitas di perkotaan dan pedesaan.
Selama ini, bersepeda di Indonesia identik dengan kegiatan akhir pekan di jalur khusus atau ajang gowes bersama. Padahal, di sejumlah negara, sepeda telah menjadi bagian dari sistem transportasi publik yang terintegrasi.
Penyelenggara menilai kebiasaan tersebut perlu dikoreksi. Jika sepeda diterima sebagai alat transportasi utama, dampaknya bisa meluas, mulai dari pengurangan kemacetan hingga penurunan polusi udara di kota-kota besar.
Forum ini diyakini bakal melahirkan sejumlah rekomendasi konkret. Salah satu yang menjadi sorotan adalah bagaimana penggunaan sepeda bisa menjadi bagian dari solusi atas berbagai krisis global, termasuk krisis energi dan perubahan iklim.
Rekomendasi tersebut nantinya akan dirumuskan berdasarkan pengalaman dari berbagai negara yang sudah berhasil mengintegrasikan sepeda ke dalam kebijakan transportasi perkotaan. Klaten sendiri dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki ekosistem bersepeda yang mulai tumbuh.
Jika stigma berhasil diubah, warga tidak lagi melihat sepeda sebagai barang mahal untuk hobi, melainkan investasi transportasi murah. Hal ini bisa mendorong pertumbuhan industri sepeda lokal dan bengkel kecil di tingkat kampung.
Ke depan, penyelenggara berharap hasil konferensi ini bisa diadopsi oleh pemerintah daerah, termasuk Pemkab Klaten, dalam perencanaan tata kota yang lebih ramah pesepeda. Mulai dari penyediaan jalur aman hingga tempat parkir sepeda di fasilitas publik.