JAWA TENGAH — Ferrari Luce EV menjadi salah satu mobil listrik paling kontroversial tahun ini. Meskipun dihujat di pasar global karena desain dan pendekatan teknologinya, pabrikan asal Maranello ini justru mencatatkan lonjakan permintaan yang signifikan di Thailand.
Sejak diperkenalkan, Luce EV mendapat banyak kritik dari komunitas otomotif global. Beberapa kalangan menilai desainnya terlalu futuristik dan melenceng dari DNA Ferrari klasik. Namun, kritik tersebut tidak berlaku di Thailand.
Data internal Ferrari menunjukkan bahwa jumlah pemesanan dari Thailand terus bertambah setiap bulannya. Pasar mobil mewah di Thailand dinilai lebih terbuka terhadap inovasi radikal, terutama dari merek sekelas Ferrari.
Thailand memiliki basis penggemar mobil mewah yang kuat dan daya beli tinggi. Para kolektor di sana cenderung mencari eksklusivitas, dan Luce EV menawarkan status sebagai pemilik Ferrari listrik pertama di negara tersebut.
Selain itu, infrastruktur pengisian daya di Bangkok dan kota-kota besar Thailand sudah cukup mumpuni untuk menunjang penggunaan mobil listrik. Hal ini membuat konsumen tidak ragu untuk beralih ke hypercar bertenaga baterai.
Ferrari Luce EV dibanderol dengan harga yang sangat tinggi, bahkan untuk standar mobil mewah sekalipun. Namun, di Thailand, harga mahal justru menjadi simbol status sosial yang paling dicari.
“Semakin mahal dan langka, semakin diminati oleh kolektor Thailand,” ujar seorang analis otomotif yang enggan disebutkan namanya. Fenomena ini membuat Luce EV menjadi barang incaran meskipun di pasar lain dianggap gagal.
Ferrari telah mengonfirmasi bahwa pengiriman perdana Luce EV ke tangan konsumen akan dimulai tahun depan. Thailand menjadi salah satu negara prioritas pengiriman di kawasan Asia.
Pabrikan Italia ini juga dikabarkan akan menggelar acara serah terima khusus di Bangkok untuk merayakan momen tersebut. Hal ini diyakini akan semakin meningkatkan gengsi para pemilik pertama Ferrari listrik di Thailand.