JAWA TENGAH — Mendengar angka 34,9 persen mungkin terasa berat, tapi justru di sinilah kita perlu bergerak bersama. Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menyebut angka ini sebagai alarm bahwa kesehatan mental remaja adalah isu darurat yang tidak bisa ditunda lagi.
Kabar baiknya, pemerintah kini serius menggarap program ruang ramah anak. Bukan sekadar ruang fisik, tapi sebuah ekosistem yang aman secara psikologis bagi anak dan remaja untuk tumbuh, curhat, dan mengembangkan diri.
Bayangkan, hampir 1 dari 3 anak yang kita kenal—anak tetangga, keponakan, atau bahkan anak kita sendiri—berpotensi mengalami masalah kesehatan mental. Kondisi ini bisa berupa stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi yang mengganggu tumbuh kembang mereka.
Pernyataan Mendukbangga Wihaji ini disampaikan saat meninjau SPPG MBG Khusus 3B di Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis lalu. Intinya, ini bukan sekadar wacana, tapi sudah masuk tahap aksi nyata lintas kementerian.
Mengatasi masalah ini tidak bisa sendiri. Karena itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Kementerian PPPA, Kemendikdasmen, dan Kemenag.
"Kami berkewajiban memberikan edukasi kepada seluruh warga negara, khususnya anak dan remaja, untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi penerus bangsa," ujar Mendukbangga Wihaji dalam keterangannya.
Pendekatan dari orang dewasa ke anak seringkali terasa menggurui. Karena itu, pemerintah memaksimalkan peran Generasi Berencana (GenRe) dan Duta Anak sebagai garda terdepan.
"GenRe dan duta-duta anak lebih efektif dalam mengkampanyekan dan mensosialisasikan kesehatan mental, karena lebih didengarkan oleh remaja dan teman-teman sebayanya dibandingkan orang-orang dewasa," jelas Wihaji.
Strategi ini cerdas. Remaja cenderung lebih terbuka bercerita tentang masalah pribadi kepada teman seusianya yang dianggap paham, bukan kepada orang tua atau guru yang dianggap otoriter.
Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan akses informasi, di sisi lain membuka pintu bagi cyberbullying, kecanduan game, dan perbandingan sosial yang tidak sehat di media sosial.
"Di tengah peradaban baru ini kita harus memiliki strategi dan cara baru dalam mengatasi masalah kesehatan mental anak-anak," tegas Mendukbangga Wihaji.
Artinya, program ruang ramah anak ini harus adaptif terhadap tantangan digital. Bukan sekadar menyediakan tempat bermain, tapi juga membekali anak dengan literasi digital dan kecerdasan emosional yang mumpuni.
Sambil menunggu program pemerintah berjalan optimal, ibu tetap menjadi garda terdepan kesehatan mental anak. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
Kesehatan mental anak adalah investasi jangka panjang. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan peran aktif orang tua di rumah, kita bisa menekan angka 34,9 persen tersebut dan melahirkan generasi yang lebih tangguh secara psikologis.