SEMARANG — Konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan pertama 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen (year on year/yoy), sementara investasi melesat hingga 9,61 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menjelaskan bahwa momen Ramadan dan Idulfitri mendorong mobilitas masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi sumber pertumbuhan utama. "Momentum Ramadan dan Idulfitri mendorong mobilitas masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi sumber pertumbuhan utama ekonomi Jawa Tengah," ujarnya dalam rilis resmi, Selasa (5/5/2026).
Kinerja Sektor Unggulan: Konstruksi dan Akomodasi Melesat
Dari sisi lapangan usaha, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 11,91 persen (yoy). Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga tumbuh impresif sebesar 14,14 persen (yoy), sejalan dengan meningkatnya okupansi hotel dan aktivitas pariwisata selama libur Lebaran.
Sementara itu, sektor industri pengolahan tetap tumbuh positif 4,04 persen (yoy) meski melambat dibanding triwulan sebelumnya. Sektor perdagangan masih mampu tumbuh 5,22 persen (yoy) berkat daya beli masyarakat yang terjaga.
Investasi dan Infrastruktur Dorong Lonjakan Kredit
Investasi yang melonjak 9,61 persen (yoy) didukung oleh pembangunan pabrik baru di kawasan industri dan proyek strategis pemerintah. Konsumsi pemerintah juga tercatat naik drastis 19,36 persen seiring percepatan pembangunan infrastruktur menjelang arus mudik Lebaran.
Di sektor keuangan, penyaluran kredit perbankan menunjukkan perbaikan meski masih terkontraksi 0,63 persen (yoy) menjadi Rp385,82 triliun. Kredit UMKM membaik dengan kontraksi menyempit menjadi 2,11 persen (yoy), sementara kredit konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif 4,43 persen (yoy).
Digitalisasi dan Ketenagakerjaan: QRIS Tembus 2,1 Juta Merchant
Digitalisasi sistem pembayaran terus berkembang pesat. Jumlah merchant QRIS di Jawa Tengah telah menembus lebih dari 2,1 juta, seiring meningkatnya penggunaan pembayaran digital oleh masyarakat.
Kinerja ketenagakerjaan juga membaik. Tingkat pengangguran terbuka turun dari 4,33 persen pada Februari 2025 menjadi 4,24 persen pada Februari 2026. Indeks penghasilan dan indeks ketersediaan lapangan kerja berada pada level optimistis.
Inflasi Terjaga, Risiko Global Masih Mengintai
Pada sisi harga, inflasi Jawa Tengah meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Kenaikan dipengaruhi normalisasi tarif listrik setelah program diskon berakhir, serta naiknya harga emas global yang mendorong inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Bank Indonesia memperkirakan inflasi sepanjang 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen (yoy). Meski demikian, risiko kenaikan harga masih dipengaruhi konflik geopolitik global, fluktuasi harga emas, potensi gangguan pasokan energi, hingga dampak perubahan iklim terhadap produksi pertanian.
Ke depan, BI memperkirakan ekonomi Jawa Tengah sepanjang 2026 tetap tumbuh kuat. Pertumbuhan akan ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, serta sektor akomodasi dan makan minum yang dinilai berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru.