BANJARNEGARA — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung pelaksanaan GPM di Desa Gumiwang, Kabupaten Banjarnegara, Senin (18/5). Dalam kunjungan itu, ia memastikan bahwa program ini menyasar langsung kebutuhan warga akan bahan pokok dengan harga di bawah pasaran.
“GPM merupakan intervensi untuk menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan stok bahan pokok guna mengendalikan inflasi di Jateng,” ujar Luthfi.
Subsidi Bahan Pokok Capai Rp 121 Juta di Satu Desa
Di Desa Gumiwang saja, nilai komoditas yang dijual mencapai Rp 121 juta. Rinciannya meliputi 5 ton beras, 1.000 liter minyak goreng, 500 kilogram telur, 200 kilogram gula pasir, serta bawang merah dan bawang putih masing-masing 200 kilogram. Cabai rawit merah dan cabai merah keriting masing-masing 50 kilogram ikut digelontorkan.
Menurut Luthfi, harga jual di GPM sudah mendapat subsidi dari pemerintah. Selisih harga dengan pasar tradisional bisa mencapai 20 hingga 30 persen untuk beberapa komoditas.
Omzet Rp 15,1 Miliar dalam Lima Bulan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah Widi Hartanto menambahkan, sejak Januari hingga Mei 2026, GPM telah digelar sebanyak 794 kali di seluruh wilayah provinsi. Total omzet dari kegiatan itu mencapai Rp 15,1 miliar.
“Ini untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat, supaya dapat mengakses pangan yang lebih murah,” kata Widi.
Ia menjelaskan, GPM tidak hanya digelar di pasar tradisional, tetapi juga menyasar desa-desa dan kawasan permukiman padat penduduk. Langkah ini ditempuh agar distribusi pangan murah merata hingga ke tingkat RT/RW.
Strategi Jangka Pendek Tekan Inflasi Pangan
GPM merupakan salah satu instrumen cepat yang diandalkan Pemprov Jateng untuk menekan laju inflasi daerah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga cabai dan bawang di sejumlah pasar sempat menunjukkan tren kenaikan akibat gangguan cuaca dan distribusi.
Dengan frekuensi 794 kali dalam lima bulan, rata-rata GPM digelar lebih dari 5 kali setiap harinya di berbagai titik. Pemerintah kabupaten/kota diminta melaporkan secara berkala titik-titik yang masih membutuhkan intervensi serupa.
Luthfi memastikan, GPM akan terus diperluas selama tekanan harga bahan pokok masih dirasakan warga. “Kami tidak akan berhenti sampai harga benar-benar stabil dan daya beli masyarakat pulih,” tegasnya.