JEPARA — Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari empat abad, Perang Obor di Jepara, kembali mendapat sorotan. Wagub Jawa Tengah, Taj Yasin, menyatakan bahwa ritual tahunan ini bukanlah atraksi belaka, melainkan warisan leluhur yang kaya akan nilai-nilai filosofis.
Lebih dari Sekadar Tontonan, Ada Pesan Moral di Dalamnya
Menurut Taj Yasin, esensi dari Perang Obor jauh melampaui visualisasi pertarungan menggunakan obor. Tradisi ini merupakan medium untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada generasi penerus. Nilai-nilai seperti keberanian, ketahanan, dan semangat kebersamaan terpatri dalam setiap rangkaian prosesinya.
"Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya, melainkan tradisi yang menyimpan pesan moral," ujar Wagub Taj Yasin dalam pernyataannya.
Potensi Besar untuk Menjadi Ikon Wisata Budaya Jateng
Lebih lanjut, Wagub Taj Yasin melihat potensi luar biasa dari tradisi ini di sektor pariwisata. Dengan kemasan yang tepat dan promosi yang gencar, Perang Obor dapat menjadi magnet wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah provinsi untuk mengembangkan pariwisata berbasis budaya lokal.
Tradisi yang diadakan setiap tahun di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara ini, diyakini mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Mulai dari sektor perhotelan, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi acara.
Menjaga Api Tradisi agar Tak Padam di Era Modern
Pernyataan Wagub ini menjadi angin segar bagi para pegiat budaya dan masyarakat Jepara. Pengakuan dari tingkat provinsi diharapkan dapat mendorong upaya pelestarian yang lebih serius dan terstruktur. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat menyusun strategi untuk memaksimalkan potensi Perang Obor tanpa menghilangkan nilai sakral dan tradisionalnya.
Dengan pengelolaan yang baik, Perang Obor Jepara tidak hanya akan terus "menyala" sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber kebanggaan dan kesejahteraan bagi masyarakat Jepara di masa depan.