JAWA TENGAH — Bulan Juni 2026 menjadi titik balik yang kurang menyenangkan bagi para penggemar Apple. Dalam wawancara eksklusif dengan Wall Street Journal, CEO Tim Cook menegaskan bahwa kenaikan harga produk Apple sudah tidak bisa dihindari. Penyebab utamanya adalah krisis pasokan RAM yang melanda industri semikonduktor global.
Kenaikan Harga Tak Terelakkan, Ini Penyebabnya
"Kenaikan harga tidak bisa dihindari," ujar Tim Cook dalam wawancara tersebut, seperti dikutip dari 9to5Mac. Ia menjelaskan bahwa lonjakan biaya komponen memori menjadi tekanan utama bagi margin keuntungan perusahaan.
Kelangkaan RAM ini bukanlah isu baru. Sejak tahun lalu, produsen memori seperti Samsung dan SK Hynix telah mengurangi produksi untuk menstabilkan harga pasar. Dampaknya kini mulai terasa di lini perangkat konsumen, terutama untuk produk dengan kapasitas RAM besar.
Bagi pengguna Indonesia, dampaknya bisa langsung terasa di dompet. iPhone 17 Pro Max yang saat ini dibanderol sekitar Rp 24,9 juta, misalnya, berpotensi naik 5-10 persen jika kebijakan ini diterapkan secara global.
Kolaborasi Apple-Intel di Pabrik Amerika
Di tengah kabar buruk soal harga, ada secercah harapan dari sisi produksi jangka panjang. Presiden AS mengumumkan bahwa Apple dan Intel kini bekerja sama untuk membangun chip di Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi rantai pasokan yang digagas pemerintahan AS.
Meski demikian, dampak dari kerja sama ini belum akan terasa dalam waktu dekat. Pabrik baru biasanya membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk mencapai volume produksi massal. Artinya, kenaikan harga akibat kelangkaan RAM tetap akan terjadi dalam jangka pendek.
iPhone Air 2 Siap Meluncur Tahun Depan
Selain soal harga, ada kabar produk baru yang patut dinantikan. Laporan terbaru menyebutkan bahwa iPhone Air 2 akan hadir tahun depan dengan dua peningkatan utama. Sayangnya, detail spesifik mengenai peningkatan tersebut belum diungkap secara gamblang.
Kehadiran iPhone Air 2 di tengah kenaikan harga komponen menjadi pertanyaan besar. Apple kemungkinan harus pintar-pintar menyusun strategi harga agar lini "Air" yang lebih terjangkau tetap kompetitif di pasar, termasuk di Indonesia.
Apa Artinya bagi Konsumen Indonesia?
Bagi pembaca di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, jika Anda berencana membeli iPhone, iPad, atau MacBook anyar, sebaiknya jangan menunda terlalu lama. Harga bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti kebijakan global Apple.
Kedua, perhatikan kanal pembelian. Produk Apple yang dijual resmi melalui distributor di Indonesia biasanya sudah termasuk bea masuk dan pajak. Jika harga global naik, harga iBox, Digimap, atau Erafone hampir pasti ikut terkerek.
Ketiga, untuk yang lebih fleksibel, opsi refurbished atau seri sebelumnya bisa menjadi alternatif cerdas. iPhone 16 series atau MacBook Air M3, misalnya, masih menjadi pengerja tugas harian yang mumpuni dengan harga yang lebih stabil.
Apple sendiri belum merilis daftar harga baru untuk pasar Indonesia. Namun, pernyataan Tim Cook di Wall Street Journal sudah menjadi sinyal jelas: bersiaplah untuk harga yang lebih tinggi di toko-toko resmi dalam beberapa bulan ke depan.