KARANGANYAR — Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, saat akses ambulans yang hendak menjemput pasien kritis terhalang konvoi pesilat pada Minggu (21/6) malam hingga Senin dini hari. Pasien, Hadi Sukat (61), warga Dukuh Bulurejo, Desa/Kecamatan Karangpandan, akhirnya meninggal dunia sebelum mencapai fasilitas kesehatan akibat keterlambatan penanganan.
Kronologi: Ambulans Terjebak di Tengah Konvoi
Agung, seorang relawan yang dimintai tolong keluarga korban, menceritakan peristiwa nahas itu. Ia dibangunkan pada pukul 02.30 WIB saat kondisi Hadi sudah sangat kritis di rumah.
"Saat saya lihat, kondisinya mendengkur, lemas, setengah sadar, dan keringat bercucuran. Sepertinya terkena serangan jantung, tapi dia memiliki riwayat gula. Sudah sering kontrol RS PKU (Karanganyar)," kata Agung saat dihubungi, Senin (22/6).
Agung segera mencari ambulans di basecamp, namun dua unit sedang bertugas keluar. Ia pun menghubungi salah satu sopir untuk segera kembali. Dari komunikasi tersebut, sopir menyatakan masih terjebak konvoi perguruan silat di kawasan Tugu Ngipik, Karangpandan.
Jarak 5 Menit Jadi 30 Menit, Pasien Semakin Kritis
Ambulans yang hendak menuju lokasi pasien harus melewati sejumlah titik yang dipadati massa. Kendaraan sempat tertahan cukup lama di kawasan jembatan arah timur dan sekitar terminal Karangpandan. Agung mengaku menunggu kedatangan ambulans hingga sekitar setengah jam, padahal kondisi lalu lintas normal hanya butuh waktu lima menit.
"Saya menunggu ambulans ke basecamp cukup lama, kalau tidak terhalang mungkin 5 menit sudah sampai. Nunggunya sekitar setengah jam, kalau lalu lintas normal paling 5 menitan," jelasnya.
Ambulans akhirnya tiba, namun kondisi Hadi sudah semakin memburuk. Rencana awal membawanya ke RS PKU Karanganyar dibatalkan, pasien dialihkan ke Puskesmas Karangpandan. Dalam perjalanan, ambulans kembali tertahan sesaat di simpang empat Karangpandan oleh konvoi yang sama.
Meninggal Sesampainya di Puskesmas
Sesampainya di Puskesmas Karangpandan, Hadi Sukat dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis. Agung tidak bisa memastikan kapan tepatnya korban mengembuskan napas terakhir, karena ia fokus mempercepat evakuasi.
"Saat saya bawa sudah tidak mendengkur, yang di belakang istrinya tapi nangis terus. Saat sampai Puskesmas, dicek sudah tidak ada," ujarnya.
Relawan Soroti Prioritas Ambulans di Jalan Raya
Agung menyoroti masih rendahnya kesadaran pengguna jalan terhadap prioritas ambulans. Menurutnya, ambulans yang melintas tanpa membawa pasien kerap disalahpahami. Padahal, kendaraan tersebut bisa saja sedang menuju lokasi untuk menjemput pasien dalam kondisi darurat.
"Ambulans kosong sering dianggap tidak membawa pasien. Padahal bisa saja sedang menuju lokasi untuk menjemput pasien atau menjalankan tugas darurat lainnya," pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya disiplin berlalu lintas dan penghormatan terhadap kendaraan darurat di jalan raya, terutama saat berlangsungnya kegiatan massa yang melibatkan ribuan orang.