Pencarian

UIN Walisongo Kembangkan Buku Cerita Anak untuk Perkuat Peran Ayah dan Tanamkan Moderasi Beragama

Rabu, 29 Juli 2026 • 13:57:31 WIB
UIN Walisongo Kembangkan Buku Cerita Anak untuk Perkuat Peran Ayah dan Tanamkan Moderasi Beragama
UIN Walisongo mengembangkan buku cerita anak berbasis nilai moderasi beragama untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan.

SEMARANG — Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menghadirkan inovasi dalam penguatan pendidikan keluarga melalui pengembangan buku cerita anak berbasis nilai moderasi beragama. Program ini menjadi bagian dari riset yang bertujuan menghidupkan kembali peran ayah sebagai pendamping utama anak melalui budaya read aloud atau membacakan cerita.

Inisiatif tersebut lahir di tengah meningkatnya perhatian terhadap fenomena fatherless serta berkurangnya interaksi berkualitas antara orang tua dan anak. Melalui kegiatan membaca bersama, keluarga diharapkan menjadi ruang pertama dalam membangun karakter, spiritualitas, sekaligus nilai toleransi sejak usia dini.

Riset Berjudul Revitalisasi Peran Ayah sebagai Agen Literasi Spiritual

Program ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Transformasi Moderasi Beragama Berbasis Keluarga: Revitalisasi Peran Ayah sebagai Agen Literasi Spiritual melalui Kegiatan Read Aloud Anak Usia Dini” yang didanai melalui skema Ministry of Religious Affairs (MoRA) Research Grant.

Riset dipimpin Prof. Dr. Moh. Erfan Soebahar, M.Ag. bersama tim yang terdiri atas Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., Azizaturrahma, S.S., M.A., Chyndy Febrindasari, M.A., Arief Darmawan, M.Pd., dan Fajar Aditya, M.M. Salah satu implementasi penelitian tersebut diwujudkan melalui Workshop Penulisan Buku Cerita Anak Berbasis Nilai Moderasi Beragama di The Azana Hotel Airport Semarang.

Keluarga Tempat Pertama Anak Belajar Agama dan Kemanusiaan

Ketua tim peneliti, Prof. Moh. Erfan Soebahar, menegaskan bahwa keluarga memiliki posisi strategis sebagai tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan kebangsaan. Menurutnya, kehadiran ayah dalam proses pengasuhan tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang membangun kedekatan emosional melalui aktivitas sederhana, seperti membacakan buku cerita.

Sementara itu, Prof. Fatah Syukur menilai pergeseran fungsi pendidikan keluarga kepada sekolah, lembaga penitipan anak, hingga penggunaan gawai membuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan semakin berkurang. Karena itu, pendekatan read aloud dipilih sebagai metode yang mudah diterapkan keluarga sekaligus menjadi sarana menanamkan nilai moderasi beragama.

Teknik Menulis Picturebook: Ilustrasi Dominan 70–80 Persen

Workshop tersebut menghadirkan penulis buku anak Dwi Astutik sebagai narasumber utama. Ia membekali peserta dengan teknik menyusun picturebook atau buku cerita bergambar yang mampu menyampaikan pesan moral secara efektif kepada anak.

Menurut Dwi, picturebook bukan sekadar buku bergambar, melainkan karya sastra anak yang menggabungkan ilustrasi dan teks secara harmonis. Dalam buku jenis ini, ilustrasi memiliki peran dominan hingga sekitar 70–80 persen, sedangkan teks disusun singkat untuk memperkuat alur cerita.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami karakteristik pembaca berdasarkan usia. Pemilihan kosakata, panjang kalimat, jumlah halaman, hingga tingkat kompleksitas cerita harus disesuaikan dengan kemampuan membaca anak agar pesan dapat diterima secara optimal.

Cerita Mengusung Toleransi, Kasih Sayang, dan Kerja Sama

Dalam sesi praktik, peserta diajak mengembangkan ide cerita mulai dari menyusun sinopsis, merancang karakter, menentukan konflik dan penyelesaian, hingga membuat storyboard sebagai rancangan visual sebelum proses ilustrasi.

Cerita-cerita yang disusun mengangkat berbagai nilai moderasi beragama seperti toleransi, kasih sayang, penghargaan terhadap keberagaman, kerja sama, tanggung jawab, serta penyelesaian konflik secara damai. Seluruh nilai tersebut dikemas dalam kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari anak sehingga lebih mudah dipahami tanpa terkesan menggurui.

Melalui penelitian ini, Tim Riset MoRA UIN Walisongo berharap lahir model literasi keluarga yang dapat diterapkan secara luas di Indonesia. Dengan membiasakan kegiatan membaca bersama, khususnya melibatkan ayah, keluarga diharapkan mampu menjadi fondasi dalam membentuk generasi yang religius, moderat, cinta damai, serta menghargai keberagaman sejak usia dini.

Bagikan
Sumber: jatengnews.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks