SEMARANG — Rencana perluasan ini merupakan komitmen yang telah dibangun sejak tahun lalu antara Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dengan pemerintah kabupaten/kota terkait. Arif menyebut persiapan teknis, termasuk sosialisasi awal kepada masyarakat dan perusahaan di sepanjang koridor, sudah mulai berjalan.
14 Armada Disiapkan untuk Koridor Gelang Manggung
Untuk mendukung operasional koridor Gelang Manggung, Pemprov Jateng menyiapkan 14 armada bus. Rute perjalanan masih dalam tahap penyempurnaan agar layanan dapat terintegrasi dengan angkutan kota maupun angkutan pedesaan yang nantinya berfungsi sebagai feeder.
“Integrasi tersebut penting agar keberadaan Trans Jateng mampu memperluas akses transportasi masyarakat tanpa menghilangkan peran moda angkutan lokal yang telah ada,” ujar Arif.
Mengapa Waktu Persiapan Butuh Dua Tahun?
Sosialisasi secara lebih mendalam akan dilakukan pada awal 2027. Arif menjelaskan, persiapan operasional koridor Trans Jateng membutuhkan waktu minimal dua tahun sebelum layanan resmi berjalan. Hal itu dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis sekaligus mencegah persoalan dengan jalur angkutan lama yang sudah beroperasi.
“Supaya dalam pelaksanaannya nanti tidak ada permasalahan dengan koridor-koridor angkutan lama atau yang sudah existing,” pungkasnya.
Koridor Jekuti: MoU Ditargetkan pada 2027
Sementara itu, pengembangan koridor Jepara-Kudus-Pati memasuki tahap kerja sama pada 2027 melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Setelah proses persiapan rampung, layanan di wilayah tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Dampak Transportasi terhadap Inflasi Daerah
Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno mengatakan, peningkatan kualitas transportasi tidak hanya berkaitan dengan mobilitas masyarakat, tetapi juga berdampak terhadap perekonomian daerah. Menurutnya, kelancaran transportasi menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pengendalian inflasi karena berkaitan dengan distribusi barang dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Saat ini, Trans Jateng telah melayani tujuh koridor dengan total 115 armada bus. Layanan tersebut tersebar di empat wilayah pengembangan, yakni Kendal, Demak, Ungaran (Kabupaten Semarang), Kota Semarang, Purwodadi (Kedungsepur); Solo Raya; Banyumas Raya; serta Purworejo-Magelang.