WONOGIRI — Para kader kesehatan di Desa Wonoharjo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, mendapat edukasi unik tentang pencegahan hipertensi melalui konsep budaya Jepang, Hara Hachi Bu Me. Istilah yang berarti berhenti makan saat perut terasa kenyang sekitar 80 persen ini diperkenalkan mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (Undip) dalam kegiatan bertema “Pengendalian dan Pencegahan Hipertensi pada Masyarakat melalui Optimalisasi Tanaman Pangan Bergizi dan Pendampingan Pola Hidup Sehat”.
Alih-alih sekadar teori, para kader diajak memahami bagaimana kebiasaan sederhana ini bisa menekan risiko penyakit tidak menular yang kerap dipicu pola makan berlebihan. Materi ini dianggap relevan karena hipertensi masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang perlu diantisipasi sejak dari lingkup keluarga.
Mengenal Hara Hachi Bu Me, Filosofi Makan dari Negeri Sakura
Konsep Hara Hachi Bu Me (????) mengajarkan pengendalian porsi makan secara mandiri. Seseorang disarankan berhenti mengonsumsi makanan sebelum merasa kekenyangan penuh, tepatnya saat rasa kenyang telah mencapai 80 persen.
Pendekatan ini menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan makan lebih sehat dalam keseharian warga. Dengan mengatur porsi, asupan kalori dan garam yang masuk ke tubuh bisa lebih terkontrol, sehingga risiko terkena hipertensi dapat ditekan.
Allysha Nayla Fajra: Materi Dikemas dengan Bahasa Sederhana
Materi Hara Hachi Bu Me disampaikan langsung oleh Allysha Nayla Fajra, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang. Ia bertugas memberikan pendampingan budaya makan secukupnya sekaligus mengenalkan konteks budaya Jepang yang melatarbelakangi lahirnya konsep tersebut.
“Saya ingin kader kesehatan tidak hanya paham secara teori, tapi juga bisa membayangkan bagaimana penerapan konsep ini dalam kehidupan sehari-hari. Makanya saya coba kemas dengan bahasa yang sederhana, supaya mudah dipahami dan bisa langsung dipraktikkan,” ujar Allysha.
Respons Warga: Istilah Asing, Makna yang Dirasakan Dekat
Meski menggunakan istilah berbahasa Jepang, materi ini justru menarik perhatian para peserta. Salah seorang kader kesehatan mengaku baru pertama kali mendengar istilah tersebut, namun menilai konsepnya cukup sederhana untuk diterapkan.
“Baru dengar istilah itu, tapi ternyata maksudnya sederhana, makan jangan sampai terlalu kenyang. Asyik juga belajar sambil tahu istilah dari negara lain,” ujarnya.
Pendekatan lintas budaya ini dinilai memberikan pengalaman belajar berbeda bagi kader. Mereka tidak hanya mendapat wawasan tentang budaya Jepang, tetapi juga pemahaman praktis mengenai pentingnya mengendalikan pola makan untuk kesehatan jangka panjang.
Harapan Keberlanjutan Program KKN di Desa Wonoharjo
Edukasi ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN yang berada di bawah bimbingan tiga Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Farid Agushybana, S.KM., DEA., Ph.D., Fariz Nurmita Aziz, S.T.P., M.Sc., dan Dewi Setyaningsih, S.IP., M.A.
Pemilihan kader kesehatan sebagai sasaran utama bukan tanpa alasan. Setelah mendapatkan pengetahuan dari mahasiswa, mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang meneruskan informasi kepada keluarga dan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Melalui cara sederhana seperti mengatur porsi makan dan menghindari kebiasaan makan berlebihan, kesadaran bahwa pencegahan hipertensi bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari diharapkan semakin tumbuh. Konsep Hara Hachi Bu Me pun diharapkan tidak berhenti sebagai istilah asing, melainkan menjadi inspirasi bagi warga Desa Wonoharjo untuk membangun pola makan lebih sehat dan berkelanjutan.