SOLO — Turnamen panahan bertajuk Para-meter Archery Indonesia Open 2026 di Lapangan FKIP UNS Solo berakhir dengan dominasi tuan rumah. Tim para panahan Indonesia memastikan gelar juara umum setelah mengumpulkan dua medali emas dan satu perak, mengungguli PPLOP Jawa Tengah yang finis di posisi kedua dengan raihan dua emas dan satu perunggu.
Kontribusi terbesar datang dari Ken Swagumilang. Atlet asal Jawa Timur itu naik podium tertinggi di nomor compound individu setelah mengalahkan wakil Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dimas Maulana, dengan skor 142-138 pada partai final.
Kunci Kemenangan Ken di Semifinal dan Final
Perjalanan Ken menuju final tidak mudah. Pada babak semifinal, ia harus bersusah payah menaklukkan juara POMNAS 2025, Muhammad Faris Ardiansyah, dengan skor tipis 147-145. Duel sengit itu menjadi ujian mental yang cukup berat sebelum ia akhirnya tampil dominan di laga puncak.
Emas kedua Ken diraih dari nomor mixed team. Berpasangan dengan Teodora Audi Ayudia Ferelly, pasangan ini tampil konsisten dengan mengumpulkan 152 poin. Mereka kembali berhadapan dengan Dimas Maulana yang kini berpasangan dengan Qanita Syauqina, namun lawan hanya mampu membukukan 147 poin.
Mengapa Atlet Non-Disabilitas Ikut Serta?
Keunikan turnamen ini terletak pada konsep kompetisi yang mempertemukan pemanah disabilitas dan non-disabilitas dalam satu panggung. Dari total 65 peserta, sebanyak 40 di antaranya berstatus non-disabilitas. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi pelatnas.
Pelatih para panahan Indonesia, Idya Putra Harjianto, menegaskan ajang ini dirancang untuk menguji mental bertanding atletnya. Biasanya mereka hanya berhadapan dengan sesama atlet disabilitas, sehingga atmosfer pertandingan kali ini dinilai jauh lebih berat dan kompetitif.
“Biasanya mereka bertanding dengan sesama atlet disabilitas, kali ini didatangkan atlet yang non-disabilitas. Artinya pertarungan mental di ajang ini sangat membantu atlet-atlet para panahan Indonesia menuju kejuaraan yang lebih besar,” kata Idya, Minggu (9/8/2026).
Uji Coba Sistem Alternate Shoot ala Kejuaraan Dunia
Panitia sengaja menerapkan sejumlah penyesuaian aturan untuk meningkatkan konsentrasi atlet. Salah satunya, satu bantalan tembak digunakan untuk tiga peserta, padahal biasanya hanya dua orang. Sistem alternate shoot juga mulai diberlakukan sejak babak kedua.
Sistem ini menjadi catatan evaluasi tim pelatih setelah mengikuti kejuaraan dunia di Novemesto, Republik Ceko, pada 29 Juni-4 Juli 2026. Saat itu, sejumlah pemanah Indonesia dinilai masih gugup karena belum terbiasa dengan panggung alternate shoot.
“Kita memberlakukan sistem alternate shoot yang jarang dijumpai di Indonesia. Dari sinilah kita akan membiasakan diri menuju panggung alternate yang akan digunakan saat kejuaraan dunia dan Asian Para Games,” ujar Idya.
Tambahan Perak dan Target ke Asian Para Games 2026
Selain dua emas dari Ken, tim Indonesia juga menyumbangkan satu medali perak melalui pasangan Kholidin/Noviera Ross pada nomor mixed team recurve. Mereka harus mengakui keunggulan pasangan PPLOP Jawa Tengah, Daffa Indika Haidar/Vinethea Natyasha, setelah kalah dengan skor 1-5.
Ketua penyelenggara, Rameez Ali, menyebut turnamen ini memiliki dua tujuan utama: persiapan menuju Asian Para Games 2026 serta membangun solidaritas antar pemanah dari berbagai latar belakang.
“Melalui ajang ini kami ingin menambah solidaritas antara pemanah disabilitas dan non-disabilitas, yang mana selama ini mungkin belum pernah bertanding bersama, terutama di kejuaraan nasional,” kata Rameez.
Setelah turnamen di Solo, Kholidin dan kawan-kawan dijadwalkan mengikuti Hyundai World Archery Para Series 2026 di Ahmedabad, India, pada 5-9 September 2026. Ajang tersebut menjadi krusial karena selain persiapan kompetisi internasional, para atlet juga memburu poin untuk membuka peluang lolos ke Paralimpiade Los Angeles 2028.