SEMARANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi perhatian serius. Selain merusak ekosistem, kabut asap yang ditimbulkan berdampak langsung pada kesehatan warga dan mengganggu mobilitas di darat maupun udara.
Istilah karhutla sendiri merupakan singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, sebuah fenomena yang hampir setiap tahun terjadi di kawasan Kalimantan. Pemicunya beragam, mulai dari ulah manusia hingga faktor alam berupa cuaca panas yang ekstrem.
Dampak Karhutla: Infeksi Saluran Pernapasan dan Gangguan Penerbangan
Kabut asap tebal akibat karhutla menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat. Partikel halus yang terkandung dalam asap dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jika terhirup dalam jangka waktu lama.
Oleh karena itu, pemerintah selalu menyarankan warga untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan ketika kabut asap melanda. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma disebut paling berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Tidak hanya kesehatan, kabut asap juga menyebabkan gangguan serius pada aktivitas penerbangan dan perjalanan darat. Jarak pandang yang terbatas kerap membuat jadwal penerbangan tertunda atau dialihkan, sementara di jalan raya, pengendara harus ekstra hati-hati.
Kerusakan Ekosistem dan Kerugian Ekonomi Akibat Karhutla
Dampak karhutla terhadap lingkungan tidak bisa dianggap remeh. Kobaran api yang melahap hutan akan memusnahkan flora dan fauna yang hidup di dalamnya, merusak keseimbangan ekosistem dalam skala besar.
Dari sisi ekonomi, kerugian yang ditimbulkan juga sangat besar. Aktivitas warga yang terganggu dan biaya penanganan kebakaran menjadi beban tambahan bagi negara. Sektor transportasi dan pariwisata menjadi sektor yang paling merasakan dampaknya.
Pemicu Karhutla: Pembukaan Lahan dan Cuaca Panas Ekstrem
Faktor manusia masih menjadi penyebab dominan terjadinya karhutla. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar dianggap paling instan dan murah oleh sebagian petani atau perusahaan, terutama di kawasan Kalimantan. Kebiasaan ini pula yang membuat kebakaran hampir dipastikan terjadi setiap tahun.
Namun, faktor alam juga turut andil. Cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah membuat daun dan ranting kering mudah bergesekan hingga memicu kobaran api. Kondisi ini diperparah dengan minimnya curah hujan di musim kemarau.
Dari peristiwa ini, menjaga alam menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah tidak membuang sampah sembarangan, terutama benda-benda yang berpotensi memicu api seperti puntung rokok.