JAWA TENGAH — Keinginan memiliki anak kembar memang wajar. Sekali hamil, langsung dapat dua anak, dianggap lebih hemat waktu dan tenaga. Namun, di balik gemasnya bayi kembar, ada risiko medis yang jauh lebih serius dibandingkan kehamilan tunggal. Sebelum memutuskan, yuk pahami dulu faktanya, Bunda.
Apa Kata Dokter soal Anak Kembar lewat Bayi Tabung?
Menurut Prof Alan Peaceman, MD, profesor dan Kepala Kedokteran Maternal-Janin di Northwestern University Feinberg School of Medicine, pasien umumnya sangat fokus untuk mendapatkan kehamilan dalam bentuk apa pun. Kekhawatiran tentang risiko kehamilan kembar justru kerap menjadi hal sekunder bagi mereka.
Padahal, para ahli kesehatan banyak yang tidak menganjurkan upaya ini. "Siapa pun yang datang meminta kehamilan kembar, kami akan membujuk dan mencoba membuat mereka berpikir dengan benar," tegas Mark Perloe, MD, direktur medis Georgia Reproductive Specialists di Atlanta.
Proses Bayi Tabung dan Kemungkinan Kembar
Perlu Bunda pahami, dokter tidak bisa menjanjikan hasil kembar di awal program. Society for Assisted Reproductive Technology (SART) dan The American Society of Reproductive Medicine (ASRM) punya pedoman ketat soal berapa banyak embrio yang boleh dipindahkan. Aturan ini disesuaikan dengan usia pasien, riwayat reproduksi, dan kualitas embrio.
Menariknya, tidak semua embrio yang ditransfer berhasil menempel dan tumbuh. Bahkan jika hanya satu embrio yang dipindahkan, embrio itu bisa saja membelah sendiri sehingga menghasilkan anak kembar identik. Artinya, hasil akhir IVF tidak sepenuhnya bisa dikendalikan, baik oleh pasien maupun dokter.
Risiko yang Perlu Dipertimbangkan dengan Matang
Dibandingkan memiliki satu bayi, kehamilan kembar meningkatkan risiko masalah kesehatan serius. Kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga cacat lahir adalah beberapa bahaya yang mengintai. Ibu hamil pun berisiko lebih tinggi mengalami preeklamsia, diabetes gestasional, dan perdarahan.
Phyllis Dennery, MD, FAAP, kepala divisi neonatologi di Children Hospital of Philadelphia, melihat langsung komplikasi ini. "Semakin banyak embrio di rahim, semakin besar kemungkinan kelahiran prematur dan komplikasinya," jelasnya. Komplikasi yang dimaksud meliputi gangguan pada paru-paru, otak, usus, hingga perdarahan di otak bayi.
Data CDC mencatat, sekitar 30 dari 1.000 anak kembar yang lahir di AS pada 2006 dilaporkan salah satunya meninggal. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan bayi tunggal, yang hanya enam per 1.000 kelahiran. Meski mayoritas bayi kembar lahir sehat dan tepat waktu, peluang mereka memang tidak sebaik bayi tunggal.
Faktor Biaya yang Perlu Disiapkan
Jangan lupakan urusan finansial. Satu siklus IVF di AS membutuhkan biaya sekitar USD12.500 atau setara Rp200 jutaan, ungkap Elizabeth Ginsburg, MD, President of SART. Biaya ini biasanya tidak ditanggung asuransi, sehingga pasien harus menyiapkan dana sendiri.
Karena biayanya besar, banyak pasangan hanya mampu menjalani satu atau dua kali percobaan. Padahal, program IVF tidak selalu berhasil di siklus pertama. Tekanan untuk "memaksimalkan" satu kesempatan ini sering kali membuat pasien justru berharap mendapatkan kembar.
Keputusan untuk memiliki anak kembar lewat bayi tabung adalah pilihan yang sangat personal. Diskusikan secara jujur dengan dokter kandungan atau ahli fertilitas mengenai peluang keberhasilan, risiko kesehatan, dan kemampuan finansial Bunda. Tujuan utama program ini tetaplah satu: mendapatkan bayi yang sehat, baik untuk Bunda maupun calon buah hati.