KLATEN — Perputaran uang yang dikelola oleh para agen BRILink di Klaten mencapai angka triliunan rupiah. Total volume transaksi tercatat Rp1,13 triliun, dengan kontribusi pendapatan berbasis biaya atau FBI sebesar Rp1,9 miliar bagi BRI.
Keunggulan utama model keagenan ini dibandingkan kantor kas konvensional terletak pada fleksibilitas waktu. Dari sudut pandang operasional, agen BRILink tidak terikat jam kerja resmi perbankan, sehingga bisa melayani nasabah di luar jam kantor.
Hal ini menjadi nilai tambah signifikan, terutama bagi masyarakat di wilayah yang jauh dari unit BRI atau yang membutuhkan layanan keuangan di malam hari maupun akhir pekan. Keberadaan agen di tingkat desa atau kelurahan memangkas jarak tempuh warga untuk bertransaksi.
Jaringan agen BRILink di Klaten terus diperluas untuk menjangkau daerah yang belum terlayani kantor cabang. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 1.000 agen aktif yang tersebar di 26 kecamatan se-Kabupaten Klaten.
Para agen ini umumnya adalah pemilik warung, toko kelontong, atau usaha mikro yang sudah memiliki basis pelanggan tetap. Mereka menyediakan layanan setor tarik tunai, transfer, pembayaran tagihan, hingga pembelian pulsa dan token listrik.
Peningkatan volume transaksi agen BRILink di Klaten sejalan dengan tren adopsi layanan keuangan digital di kalangan masyarakat. Banyak warga yang mulai beralih dari transaksi tunai ke non-tunai untuk keperluan sehari-hari.
Pertumbuhan ini juga didorong oleh program literasi keuangan yang gencar dilakukan BRI bersama pemerintah daerah. Masyarakat diedukasi mengenai kemudahan dan keamanan bertransaksi melalui agen resmi.
Keberadaan agen BRILink tidak hanya menguntungkan bank, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi para pelaku usaha. Fee yang diterima agen dari setiap transaksi menjadi tambahan pendapatan yang cukup berarti.
Bagi pemilik warung, misalnya, menjadi agen BRILink sekaligus meningkatkan lalu lintas pengunjung ke tokonya. Pelanggan yang datang untuk bertransaksi seringkali juga berbelanja kebutuhan pokok, sehingga omzet usaha ikut terdongkrak.