SOLO — Politik tak lagi dimaknai sebagai ajang rebutan kekuasaan yang menakutkan bagi perempuan muda. Komunitas Suara Kartini Muda membuktikannya lewat diskusi santai di kafe, Minggu (24/5/2026), yang menyasar perempuan Gen Z usia 14 hingga 31 tahun.
Pembina komunitas, Roro Indradi Sarwo Indah, mengatakan tujuan utama kegiatan ini adalah mengubah sikap apatis anak muda terhadap politik. “Kita membutuhkan keterwakilan perempuan di DPRD maupun organisasi yang lain,” ujarnya.
Menurut Roro, semua kebijakan pemerintah—dari Program Indonesia Pintar (PIP) hingga Kartu Indonesia Pintar (KIP)—tak lepas dari proses politik. Karena itu, perempuan muda harus berani bersuara dan memperjuangkan hak-haknya.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas generasi: anggota DPD RI dari Yogyakarta RA Yashinta Sekarwangi Mega, anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini, serta konten kreator Triana Rahmawati. Kombinasi ini sengaja dipilih agar peserta mendapat perspektif dari politisi senior dan figur yang aktif di media sosial.
“Harapannya peserta tidak hanya dapat ilmu bahwa sebagai wanita harus berani bersuara. Bagaimana medsos mereka tidak hanya digunakan untuk yang tren, tapi juga harus peka terhadap isu,” tegas Roro.
Komunitas Suara Kartini Muda tidak akan berhenti pada sesi diskusi. Roro memastikan akan ada realisasi kegiatan lanjutan untuk menggerakkan hati para perempuan muda agar mampu berkiprah di pemerintahan dan turun ke masyarakat.
“Ini tidak hanya akan berhenti di diskusi, akan ada pendekatan lain karena ini komunitas. Agar mereka lebih menyukai politik,” ungkapnya.
Langkah ini menjadi respons atas minimnya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif daerah. Dengan pendekatan yang lebih cair dan relevan dengan keseharian Gen Z, Suara Kartini Muda berharap lahir kader-kader perempuan yang siap duduk di DPRD maupun organisasi publik lainnya.