Pencarian

Warga Mulyosari Pekalongan Sulap Lahan Terendam Rob Jadi Ekowisata Mangrove, Raih Nominasi Kalpataru

Sabtu, 16 Mei 2026 • 11:55:24 WIB
Warga Mulyosari Pekalongan Sulap Lahan Terendam Rob Jadi Ekowisata Mangrove, Raih Nominasi Kalpataru
Warga Mulyosari Pekalongan menanam mangrove untuk mengatasi dampak rob dan mengembangkan ekowisata.

PEKALONGAN — Ancaman rob yang terus menggerus lahan dan aktivitas warga di pesisir utara Jawa Tengah menjadi titik awal perubahan. Sejak 2019, lahan-lahan yang tidak lagi produktif di Desa Mulyorejo mulai ditanami mangrove secara bertahap oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Banawa Sekar.

Kawasan yang semula hanya hamparan lumpur dan air pasang kini disulap menjadi pusat konservasi dan edukasi. Tidak hanya menahan abrasi, hutan mangrove ini juga menjadi habitat berbagai biota laut dan menekan dampak rob yang selama bertahun-tahun meresahkan.

Dari Lahan Mati Jadi Sekolah Mangrove

Ketua KTH Banawa Sekar, Muh Ridho, mengatakan gerakan ini dimulai dari keresahan warga. Banyak petambak dan pemilik lahan yang akhirnya menelantarkan lahannya karena tak lagi bisa digarap.

"Awalnya karena kondisi rob sangat meresahkan warga. Banyak lahan yang akhirnya terbengkalai dan tidak produktif. Dari situ kami mulai bergerak menanam mangrove dan perlahan mengembangkan kawasan ini menjadi tempat edukasi dan wisata," ujar Ridho.

Jenis mangrove yang ditanam beragam, mulai dari Sonneratia atau kapidada, Avicennia yang dikenal sebagai brayo atau api-api, Rhizophora atau bakau, hingga Bruguiera atau lindur. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi Sekolah Mangrove, tempat belajar bagi pelajar dan masyarakat umum.

Manfaat Ekologis yang Mulai Terasa

Warga sekitar mulai merasakan perubahan. Rohman, salah seorang warga, mengatakan kawasan pesisir yang dulu sering tergenang kini lebih tertata dan hijau. "Dulu rob sering mengganggu dan banyak lahan yang terbengkalai. Sekarang kawasan lebih tertata, hijau, dan mulai banyak dikunjungi orang," ungkapnya.

Menurut Muh Ridho, keberadaan mangrove tidak hanya menahan abrasi dan memperlambat rob. Ekosistem ini juga menjadi rumah bagi kepiting, udang, dan ikan kecil yang mendukung kehidupan nelayan sekitar.

Nominasi Kalpataru: Apresiasi untuk Gerakan Warga

Upaya konservasi berbasis komunitas ini mendapat pengakuan lebih luas. Ekowisata Mangrove Mulyosari masuk dalam nominasi Kalpataru, penghargaan pemerintah bagi penyelamat lingkungan. Ridho menyebut nominasi itu menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kawasan.

"Kami ingin masyarakat memahami bahwa mangrove bukan sekadar pohon di pesisir, tetapi memiliki peran penting bagi kehidupan dan keberlanjutan lingkungan," katanya.

Ke depan, kawasan ini ditargetkan tidak hanya menjadi destinasi wisata dan pusat edukasi, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat pesisir melalui hasil olahan mangrove dan ekowisata berbasis komunitas.

Bagikan
Sumber: puskapik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks