SEMARANG — BPJS Kesehatan tidak bisa bekerja sendiri. Butuh gotong royong semua pihak, termasuk kampus. Lewat kerja sama dengan UIN Walisongo Semarang, mahasiswa nantinya bisa menjadi ujung tombak edukasi JKN langsung ke lapangan.
KKN Jadi Sarana Edukasi JKN ke Warga
Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Sutopo Patria Jati, mengatakan salah satu implementasi nyata kerja sama ini bisa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Mahasiswa yang turun ke masyarakat tidak hanya mengabdi, tapi juga menyosialisasikan pentingnya memiliki jaminan kesehatan.
"Keberhasilan Program JKN tidak hanya bergantung pada BPJS Kesehatan saja tetapi juga dibutuhkan peran dan dukungan dari seluruh ekosistem JKN, termasuk perguruan tinggi," kata Sutopo dalam keterangan resmi.
Ruang Lingkup: Riset hingga Call for Paper
Cakupan nota kesepahaman ini cukup luas. Meliputi penyelenggaraan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan perluasan kepesertaan JKN di lingkungan sivitas akademika serta tenaga kependidikan.
Sutopo menambahkan, kerja sama ini diharapkan melahirkan inovasi dan kajian ilmiah yang bisa menjadi rekomendasi kebijakan strategis. Saat ini BPJS Kesehatan juga membuka Program Call for Paper bagi dosen dan pendidik.
Pendekatan Agama: Kunci Edukasi di Masyarakat Religius
Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi, menilai kemitraan ini sangat strategis. Menurutnya, hasil survei menunjukkan masyarakat Indonesia adalah masyarakat agamis yang selalu melibatkan agama dalam kehidupan sehari-hari.
"Kami menyambut baik kerja sama ini. BPJS Kesehatan sangat tepat menjalin kemitraan dengan UIN Walisongo," tegas Musahadi.
Pendekatan berbasis nilai agama menjadi kekuatan UIN Walisongo. Menurut Musahadi, menjaga kesehatan termasuk melalui kepesertaan JKN merupakan bagian dari tanggung jawab yang diajarkan dalam agama. Ia berharap nota kesepahaman ini tidak sekadar formalitas, tapi benar-benar terealisasi dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.