Pencarian

7 Tanda Anak Alami Tekanan Sosial dari Teman di Sekolah dan Cara Menyikapinya

Selasa, 25 Agustus 2026 • 18:19:31 WIB
7 Tanda Anak Alami Tekanan Sosial dari Teman di Sekolah dan Cara Menyikapinya
Seorang siswa terlihat berjalan sendirian di koridor sekolah saat jam istirahat.

JAWA TENGAH — Menjadi orang tua memang penuh tantangan, apalagi saat anak mulai beranjak remaja dan lingkup pertemanannya semakin luas. Tekanan dari teman sebaya atau peer pressure bisa datang secara halus maupun terang-terangan, dan pengaruhnya menyentuh berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari prestasi akademik hingga kesehatan mentalnya.

Konselor Stacie Goran, LPC, LCDC, dari Children's Health menjelaskan bahwa anak remaja menghadapi banyak hal sekaligus. "Mulai dari tuntutan sekolah, aturan dari orang tua, keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial, dan pengaruh teman sebaya. Mereka pun rentan merasa kewalahan," ujarnya.

Kabar baiknya, tekanan teman sebaya tidak selalu berdampak buruk. Ada kalanya pengaruh ini justru positif, misalnya saat anak dan teman-temannya sama-sama berjuang meraih nilai bagus atau tergerak membantu kegiatan di lingkungan sekitar. Namun, penting bagi orang tua untuk jeli membedakan kapan tekanan itu mulai mengganggu keseharian anak.

1. Menghindari Sekolah atau Kegiatan Sosial

Perhatikan apakah anak mulai sering mengeluh enggan berangkat sekolah, tidak bersemangat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, atau mencari alasan untuk tidak menghadiri acara kumpul bersama teman. Rasa tidak nyaman, takut ditolak, atau khawatir harus mengikuti kemauan teman sering menjadi pemicunya.

2. Terlalu Cemas dengan Penampilan

Anak yang biasanya santai tiba-tiba menjadi sangat khawatir dengan pakaian, bentuk tubuh, rambut, atau penampilannya secara keseluruhan. Perubahan drastis ini bisa jadi merupakan usahanya untuk menyesuaikan diri dengan standar kelompok agar diterima di sekolah.

3. Perubahan Perilaku yang Mencolok

Waspadai jika anak yang biasanya ceria dan terbuka tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau lebih tertutup. Perubahan suasana hati yang drastis ini sering kali menjadi tameng saat anak merasa tertekan oleh lingkungan pertemanannya.

4. Mengungkapkan Perasaan Tidak Diterima

Jika anak cukup terbuka, ia mungkin akan bercerita bahwa dirinya tidak punya teman, merasa berbeda dari yang lain, tidak diajak bermain, atau merasa dikucilkan. Dengarkan dengan seksama tanpa langsung menghakimi atau memberi solusi.

5. Sering Tampak Cemas dan Stres

Tekanan dari teman dapat membuat anak lebih sering terlihat sedih, murung, mudah menangis, kehilangan semangat, atau berhenti menikmati hobi yang dulu disukainya. Perhatikan juga apakah ia tampak lebih mudah cemas dari biasanya.

6. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Anak mulai sering membandingkan penampilan, kemampuan, barang yang dimiliki, nilai sekolah, atau kehidupan sosialnya dengan teman-temannya. Jika ia merasa dirinya selalu lebih rendah, ini tanda bahwa ia sedang berada di bawah tekanan untuk "sama" dengan yang lain.

7. Gangguan Tidur dan Kelelahan

Kesulitan tidur nyenyak, sering terbangun di malam hari, atau tampak kelelahan saat siang hari bisa menjadi indikasi bahwa anak terlalu banyak memikirkan masalahnya. Pikiran yang penuh tekanan akan mengganggu kualitas istirahatnya.

Jenis Tekanan Sosial yang Perlu Dipahami

Sebagian besar anak memiliki keinginan kuat untuk diterima dalam kelompok. Mereka cenderung sensitif ketika diejek, ditertawakan, atau dikucilkan, sehingga rela melakukan hal-hal yang diminta teman-temannya. Namun, penting juga untuk mengenali bahwa ada tekanan yang bersifat positif, yaitu ketika kelompok saling mendorong untuk melakukan kebaikan dan berkembang ke arah yang lebih baik.

Kapan Ibu Perlu Turun Tangan?

Jika tanda-tanda di atas berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sekolah atau kehidupan sehari-hari anak, jangan ragu untuk mengajaknya bicara dari hati ke hati. Cari momen yang nyaman, misalnya saat bersantai di rumah, dan tanyakan kabarnya dengan hangat tanpa menghakimi. Jika diperlukan, konsultasikan dengan guru BK di sekolah atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Membangun identitas diri dan kemampuan mempertahankan nilai-nilai yang diyakini adalah bekal penting bagi anak agar tidak mudah goyah oleh tekanan sosial. Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini, ibu bisa menjadi tempat paling aman bagi anak untuk bercerita dan mencari solusi.

Follow semarang24.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks